Thursday, October 29, 2009

Mengenal Fasilitas Umum di Tanah Suci

Ketika berada di tanah suci tentuya Anda memerlukan adaptasi dengan peralatan umum yang disediakan dalam rangka menunjang pelaksanaan ibadah haji. Beberapa fasilitas atau informasi yang ada di sana baik itu yang disediakan di dalam masjid, di Arafah dan Mina, tentunya masih asing bagi JCH, walaupun nampaknya merupakan hal sepele tetapi bisa jadi karena kita tidak peduli malah dapat mengakibatkan kendala bagi kita. Kali ini saya akan memberikan info serta tips sedikit kepada Anda dalam memahami informasi dan fasilitas yang sering Anda temui di sana.

I. Di Masjidil Haram (Mekkah) dan Masjid Nabawi (Madinah).

Fasilitas yang pasti Anda gunakan adalah Toilet/Kamar Mandi. Pada gbr. dibawah saya tunjukkan kondisi kamar mandi tsb. Kloset yang ada sedikit berbeda dengan yang biasa kita temui, dimana kloset disana pembuangannya langsung (tidak ada leher bebeknya). Kondisi design seperti ini perlu Anda waspadai terhadap barang-barang bawaan Anda seperti HP, Camera,jam tangan atau benda-benda kecil lain yang Anda bawa, karena begitu terjatuh kedalam lobang kloset maka langsung hilang tanpa bisa kita selamatkan lagi. Dengan toilet seperti ini, kita juga diajarkan untuk bisa menerapkan sunnah Rasul dalam membuang hajat, biasanya kan kalau di tanah air tempat buang air kecil yang disediakan di masjid-masjid untuk buang air kecil laki-laki posisinya untuk berdiri (seharusnya panitia pembangunan masjid memperhatikan hal-hal seperti ini, sunnahnya duduk/jongkok). Kamar mandi ini juga dilengkapi dengan kran untuk mandi, untuk itu perlu diperhatikan dalam membuka kran baik untuk mandi ataupun membersihkan hadas, membukanya pelan-pelan karena tekanan air yang ada di masjidil haram dan masjid nabawi sangat kencang. Untuk berhadas digunakan selang dari kran bagian bawah, jika kita tidak hati-hati dalam membuka kran maka bisa jadi badan Anda akan terkena kotoran semua (hal ini pernah terjadi pada JCH yang kurang memahami cara penggunaan peralatan yang ada). Kalau sudah begini kan, akan menghambat proses ibadah sholat Anda, untuk pulang ke makhtab jaraknya juga jauh. Kamar mandi yang disediakan cukup banyak, tetapi tetap saja Anda harus antri panjang karena pada waktu-waktu menjelang dan bubaran sholat akan sangat banyak pengguna. untuk satu kamar mandi bisa mengantri 6 sampai 7 jamaah. Anda harus pandai melihat situasi, mana antrian yang bakal lama mana yang cepat pergerakannya. Feeling Anda harus main, lihat wajah-wajah jamaah karena yang ke kamar mandi terkadang ada yang sekalian buang hajat besar atau bahkan ada yang mandi. Jadi tetap makan pil Kesabaran Anda selama menunggu antrian.

Tempat Wudhu di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Fasilitas lainnya di dalam masjid adalah tempat wudhu. Tempat wudhu disediakan cukup banyak, dan didesign cukup nyaman untuk kita berwudhu dengan sempurna. Tempat wudhu dibuat tempat duduknya, dan ini sangat membantu bagi jamaah yang usia lanjut agar tidak jatuh dan capek. Cuma terkadang jamaah yang tidak mengerti fungsi tempat duduk malah dipakai jongkok ditempat itu, jadilah tempat duduk tersebut basah, jadi perlu Anda periksa dulu apakah tempat duduk wudhu itu kering atau basah agar pakaian Anda tidak ikut basah karenanya. Bukalah kran air wudhu secukupnya, jangan berlebihan karena Allah tidak menyukai yang berlebih lebihan.



Tempat Minum Air Zamzam di dalam masjidil haram


Di Masjidil haram terdapat container tempat minum Air zamzam, namun penggunaannya terkadang tidak sesuai dengan fungsinya. Jamaah yang sudah berada dalam masjid terkadang memanfaatkannya untuk tempat wudhu, hitung-hitung menghemat tenaga kalau harus ke tempat wudhu yang letaknya diluar masjid, cuma lagi-lagi kaum akhwat sering tidak mengindahkan dimana tempat untuk laki-laki dan wanita (jelas-jelas tertulis men only, tetapi tetep aja menggunakan fasilitas khusus laki-laki).

Tempat penitipan sandal/sepatu di halaman masjidil haram


II. Di Arafah dan Mina

Antrian Menggunakan Kamar Mandi Di Arafah

Kamar mandi di Arafah dan Mina jumlahnya sangat terbatas. Sehingga Anda harus pandai menyiasati kapan kekamar mandi. Gunakanlah pada waktu diluar peak session karena kalau mendekati waktu sholat fardhu antriannya cukup panjang juga. Kesabaran tetap harus diutamakan, karena seringkali terjadi cekcok antar jamaah akibat ketidak mengertian akan aturan antri. Jika memang ada jamaah yang sangat membutuhkan karena tidak kuat menahan hajat lagi, sebaiknya Anda beri kesempatan dia terlebih dahulu. Memudahkan urusan orang lain, Insya Allah, Anda akan diberi kemudahan juga dilain persoalan. Kamar mandi di Mina relatif lebih baik dibanding dengan di Arafah.

Jika masih dalam keadaan ihram, sebaiknya pakaian ihram dimasukkan dalam kantong plastik baru digantungkan di cantolan kamar mandi, hal ini untuk antisipasi kain agar tidak terjatuh ke lantai dan terkena najis yang dapat menjadi kendala pelaksanaan sholat Anda. Pembatas antar kamar mandi, dinding bagian bawah tidak tertutup rapat sehingga kalau tetangga disebelah tidak mengerti membuka kran air (membuka terlalu besar) bisa menciprat kekamar mandi kita melalui pantulan air dari lantai sehingga bisa mencipratkan najis ke pakaian kita.

Antrian Mengambil Wudhu di Mina

Ketika menggunakan kamar mandi, bagusnya sekalian aja buang hajat, mandi, gosok gigi dan wudhu daripada nanti wudhunya harus antri lagi diluar. Jangan terlalu lama menggunakan kamar mandi, Anda harus mempunyai kesadaran tinggi karena antrian setelah kita masih banyak jangan sampai membuat orang lain jengkel terhadap ketidakpedulian kita.

Kamar Mandi di Arafah

Kamar Mandi / Toilet di Mina

Tempat wudhu juga terbatas, biasanya disediakan 8 kran air wudhu. Pergunakan kamar mandi sesuai peruntukannya, kadang kaum hawa ini yang sering kurang peduli mereka ada juga yang nyelonong menggunakan kamar mandi laki-laki. alasannya sama aja lagian sudah ngga' tahan lagi, kita-kita yang laki-laki terkadang cuma geleng kepala aja lihat tingkah yang beginian.



Interior Tenda di Mina




Kran Minum Air Panas, di Mina



Dispencer Disepanjang Jalan menuju Jamarat

Air panas dan dingin disediakan selama JCH berada diperkemahan Arafah dan Mina. Khusus di Mina air panas dapat Anda peroleh di kran-kran yang disediakan dibelakang dapur yang ada. Air panas ini sayangnya panasnya hanya sampai 70 derajat celcius, nah kalau untuk memasak mie instant rasanya agak kurang matang jadinya. Airnya juga terasa banget kaporitnya. Jadi usahakan bawa alat coffee heater untuk memasak air dari botol air mineral atau air dari galon dispencer yang disediakan disetiap tenda. Disepanjang perjalanan dari Ajiziyah ke tempat jamarat di Mina, banyak tersedia dispencer dipinggir jalan. Air dari dispencer ini langsung dapat diminum. Dengan adanya fasilitas ini memudahkan kebutuhan air minum bagi JCH yang bergerak menuju Mina dan sebaliknya ketika akan melakukan Tawaf Ifadah.




Peta Perkemahan Mina dan Jamarat

Peta perkemahan dipajang dibeberapa tempat yang memudahkan JCH untuk mengetahui lokasi tenda jamaah selama bermalam di Mina. Anda dapat memphoto peta ini untuk dimanfaatkan jika sewaktu-waktu tersesat selama diperkemahan Mina. Tetapi jika Anda sudah membuat photo copynya selagi di tanah air, maka akan sangat bermanfaat untuk digunakan disana. Kebutuhan peta ini khususnya untuk Anda yang tidak ingin ketergantungan dengan pembimbing haji, tetapi kalau selalu bergerak berdasarkan kelompok KBIH, maka peta-peta ini tentunya tidak terlalu bermanfaat bagi Anda.

Toilet di ruang tunggu King Abdul Aziz, Jeddah


Monday, October 26, 2009

Tips di Hari Keberangkatan ...

Setelah menyelesaikan serangkain manasik haji dimana ada JCH yang sudah merasa siap tetapi tidak sedikit yang masih bingung bahkan khawatir apa yang akan dilakukan di tanah suci. Maka hari yang ditunggu-tunggupun tiba karena sesuai dengan jadwal pemberangkatan haji Anda harus segera masuk asrama haji, untuk itu bersiap-siaplah meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal Anda bersama keluarga tercinta. Ada beberapa Tips yang mungkin bisa membantu Anda :
  1. Malam menjelang keberangkatan, baiknya melaksanakan sholat sunnah hajat untuk meminta kemudahan dan keselamatan kepada Allah. Titipkan anak keluarga dan semuanya kepada Allah, karena Dialah sebaik-baiknya penjaga.”Ya Allah, hamba pasrah padaMu, esok hamba tinggalkan anak-anak dan keluarga hamba dengan keridhoan dan rahmatMu. Hamba titipkan anak dan keluarga hamba. Jagalah mereka, bimbinglah mereka, kasih sayangilah mereka, berikan hidayah kepada mereka dan jadikan mereka anak yang sholeh yang mencintaiMu dan juga mencitai Rasullullah SAW”. Ya Allah, esok hamba akan memulai perjalanan menuju Baitullah, rumahMu Ya Allah, berikanlah kemudahan, lancarkanlah segala urusanku, berikanlah hidayahMu, terimalah segala amalku, Ridhoilah setiap langkahku dalam menggapai Rahmat dan ampunanMu Ya Allah. Ya Allah, berikanlah kekuatan pada diri ini agar selalu terpelihara niat ibadah ini hanya semata karenaMu Ya Allah".

  2. Sebaiknya Anda menuliskan surat wasiat terhadap harta yang Anda tinggalkan, terutama jika ada hutang piutang yang masih dalam proses. Surat ini dititipkan ke orang yang Anda percaya di lingkungan keluarga.
  3. Jika Anda punya perhiasan yang ditinggalkan sebaiknya dititipkan ke deposit di Bank atau Kantor pegadaian, dan hindari untuk membawa perhiasan menuju tanah suci.
  4. Jika ada rombongan kendaraan yang mengantar ke asrama haji, perlu dibuat tulisan rombongan haji untuk ditempel di mobil yang ikut ngantar agar memudahkan masyarakat memberi jalan bagi Anda disepanjang perjalanan menuju asrama haji. Tetapi sebaiknya tidak usah diantar rombongan ke asrama haji karena toh tidak bisa masuk juga kedalam asrama.
  5. Periksa kembali barang-barang yang akan dibawa dalam tas jinjing dan tas kecil terutama dokumen haji. Barang-barang ini ditempatkan ditempat yang nanti ketika akan berangkat dari rumah mudah diambil dan tidak tercecer. Sebaiknya Anda timbang berat koper yang akan dibawa untuk memastikan sesuai dengan ketentuan berat yang diperbolehkan ( Kalau untuk embarkasi Palembang 15 Kg). hal ini penting agar koper tidak dibongkar di Asrama haji, walaupun ada kelebihan kurang dari 1 Kg.
  6. Manfaatkan untuk istirahat yang cukup, biasanya ketika malam sehari sebelum berangkat JCH banyak yang tidak bisa tidur, gelisah. Pasrahkan semua kelemahan diri kita kepada Allah, InsyaAllah kita akan diberi kemudahan untuk segera tidur.
  7. Adzan ketika akan keluar rumah

  8. Sebelum berangkat meninggalkan rumah, laksanakanlah adab-adab safar seperti shalat sunnat safar untuk meminta keselamatan kepada Allah Swt. Tinggalkan budaya atau adat yang masih berkembang selama ini untuk mengantar kepergian JCH dengan memanggil jamaah masjid atau mushola melakukan bacaan yasiin secara berjamaah, dikumandangkan Adzan ketika akan keluar rumah, menuliskan dua kalimat sahadat di secarik kertas kemudian dipotong dua, yang satu bagian dibawa ke tanah suci yang satu bagian lagi ditinggal dirumah. Hal-hal yang tidak ada tuntunan dari Rasulullah SAW, tinggalkanlah karena tidak membawa manfaat bahkan menjerumuskan kita kedalam bid'ah.
  9. Berpamitanlah kepada para tetangga dan sanak famili; anggaplah kita akan pergi untuk tidak kembali.
  10. Bergeraklah dari rumah menuju asrama haji dengan meneguhkan lagi niat haji Anda, hilangkan perasaan riya’. Karena hal ini mungkin terjadi mengingat situasi tetangga, sanak keluarga yang mengantar Anda bagaikan seorang pahlawan.
  11. Bacalah do’a berpergian yang sudah Anda pelajari.
  12. Jangan menunjukkan ekspersi kesedihan yang berlebihan (Alhamdulillah, saya tidak meneteskan air mata ketika saya meninggalkan keluarga malah saya yang nyetir sendiri mobil dari rumah ke Asrama haji…bahkan sempat diusir keluar oleh petugas ketika saya bawa koper haji saya, maklum waktu itu saya tidak pakai seragam biru telur asin setelah menunjukkan identitas haji baru deh si satpamnya minta maaf he he). Kuatkan hati Anda, bukankah seharusnya Anda bergembira menghadiri undangan Allah.Hati-hati terhadap keamanan rumah Anda ketika sedang ramai-ramainya rumah dikunjungi kerabat untuk melepaskan kepergian haji Anda, antisipasi orang-orang tak diundang yang memanfaatkan situasi. Untuk itu tugasi salah satu keluarga yang mengamati keamanan rumah.
  13. Jaga ketentuan mahrom, ketika menerima ucapan selamat (bersalaman), hindari cipika cipiki dengan yang bukan mahrom Anda.

8 Dzulhijah Menuju Mina, Sunnah Yang Mulai Ditinggalkan


Seperti janjiku sebelumnya, aku akan ceritakan pengalaman haji bersama isteri dengan cara “Tanazul” untuk melaksanakan Sunnah Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijah 1427 H, yaitu pada hari tarwiyah.
Cita-cita untuk melaksanakan tanazul sudah terpatri ketika perjalanan haji yang pertama kali di tahun 1423 H, namun dikarenakan tidak mendapat izin dari ketua kloter dan mungkin juga Allah memang berkehendak demikian, di tahun tersebut aku tidak bisa merasakan berhaji dengan cara tanazul (perjalanan ArMiNa / Mina -Arafah - Muzdalifah - Mina). Alhamdulillah do’a yang kupanjatkan dikabulkan Allah di tahun 1427 H, aku bisa melaksanakannya bersama isteri tercinta.

Melakukan haji dengan cara "tanazul", istilah popular dikalangan jamaah haji yaitu keluar dari rombongan haji Indonesia agar bisa melakukan ibadah haji yang sesuai dengan manasik hajinya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kenapa harus keluar dari rombongan haji Indonesia ? Ya..karena ada beberapa rukun haji maupun urutan pelaksanaan Ibadah haji yang sudah dipangkas (di singkat) pengerjaannya oleh Depag kita. Dan itu jelas ada kekurangan dalam pelaksanaannya sebagaimana manasik haji yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Seperti perjalanan pada hari Tarwiyah ini, dimana sunnah ini mulai sengaja ditinggalkan oleh CJH dengan beberapa alasan yang dilontarkan. Beberapa masalah besar yang mulai tidak mendapat perhatian bahkan mulai ditinggalkan oleh jamaah haji kita dalam pelaksanaan ibadah haji diantaranya :
  • Dalam mengambil Miqat, Rasulullah sudah menetapkan tempat-tempat Miqat yang ditetapkan sesuai arah kedatangan jama'ah haji. Seperti Dzul Hulaifah, Yalamlam, Qarnal-Manazil dan Juhfah, dan Tan'im bagi penduduk Mekkah. Maka bagi mereka yang hendak Haji/Umrah diwajibkan berihram ditempat-tempat yang sudah ditentukan tersebut. Maka bagi jamaah haji/Umrah yang memakai pesawat terbang yang masuk dalam Gelombang – II, maka sebelum mendarat +/- 20 menit sebelum Jeddah biasanya dari pihak penerbangan akan mengumumkan posisi diatas miqat, maka jamaah bersiap-siap untuk memakai ihram dan mengucapkan talbiah: Labbaik...dst. Namun karena Depag sudah menyatakan kalau Bandara King Abd.Aziz boleh dipergunakan sebagai tempat Miqat maka banyak jamaah haji Indonesia yang mengikuti fatwa ini dan jadilah jamaah haji tersebut melanggar batas miqat yang ditentukan oleh Rasulullah.
  • Di hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijah) menurut semua kitab-kitab fikih menerangkan, jama'ah menuju ke Mina untuk mengerjakan sholat Dzuhur di qosor, Ashar di qosor, Maghrib, Isha' di qosor dan Shubuh, setelah terbit matahari bergerak ke Arafah untuk wukuf. Tapi kenyataannya semua jamaah haji Indonesia yang dikoordinir oleh KBIH, mereka tidak ke Mina tetapi langsung menuju Arafah dan bermalam disana, sebelum wukuf esok harinya. Untuk case ini katanya sih masuk dalam wilayah khilafiyah ada yang bilang ke Mina dulu itu merupakan sunnah, ada juga yang menganggap bukan bagian dari rangkaian ibadah haji, ada juga yang wajib.
  • Ketika akan bergerak dari Arafah ke Muzdalifah mereka melakukan sholat Magrib dan Isya' di Arafah, padahal yang dicontohkan oleh Rasulullah melakukannya di Muzdalifah, dengan jama' qosar.
Rute Haji Tanazul (gbr. anurba.blogdetik.com)
Rute Haji Depag
Nah....yang lain kita ceritakan lain waktu ya...karena sekarang aku mau cerita pengalaman tanazulku.Beberapa hari sebelum hari tarwiyah, aku sudah mulai mencari informasi kapan rombongan akan melakukan survey ke kemah di Mina dan Arafah, tujuannya kalau boleh kita ikut dalam rombongan survey agar nanti kita bisa mengenali tenda di Mina dan Arafah, disamping itu aku kan tidak masuk dalam KBIH (alias haji Mandiri ). Namun kali ini aku kurang beruntung, dimana jumlah team yg survey dibatasi sehingga aku tidak bisa ikut dalam kelompok team survey. Namun aku terus mencari info ke rombongan / KBIH lain, Alhamdulillah sudah mulai ada diskusi-diskusi kecil dari jamaah di beberapa rombongan yang punya niat yang sama, yaitu Tanazul. Rencana ini kemudian dimatangkan dengan ditunjuknya satu orang ustadz dari rombongan KBIH Araudah (yaitu ust.Legawan). Sehabis Isya’ (malam tanggal 8 Dzulhijah) kami melakukan rapat kecil ( jemaah yang sudah bulat tekadnya untuk tanazul ada 13 orang). Malam itu kami membahas strategi perjalanan ( jam berangkat, perlengkapan yg dibawa, rute yang akan ditempuh dengan prediksi jarak dan lama perjalanan ). Ust.Legawan malam itu bilang, Pak...saya sudah bilang ke karom Bapak (Bpk Kholil Abas) tentang rencana ikutnya Bpk dan keluarga bergabung dalam kelompok tanazul ini, dan karom bilang dia belum tahu...Betul ust. kataku. saya memang belum bicara akan hal ini karena saya harus memastikan dulu rencananya kalau sdh matang maka saya akan minta izin resmi ke karom dan ketua kloter. Malam itu juga kami diberi tausyiah tentang hajinya Rasulullah, terus ust.mengambil salah satu ayat didalam surat Al Baqarah yang artinya "Sempurnakanlah Haji dan Umrah karena Allah", jadi kata ustadz .kita diperintahkan menyempurnakan haji kita, bukan diperintahkan menunaikan haji, kalau menunaikan gampang melaksanakannya namun kalau menyempurnakan nah..ini butuh keikhlasan dan ilmu yang cukup. Dengan adanya tausyiah malam itu membuat kami menjadi makin PD untuk melakukan tanazul ini.

Perjalanan Tanazul tidak sulit
Rombongan KBIH Daarut Tauhid Bandung menuju Mina di Ajiziyah


Tanggal 8 Dzulhijah 1427 H sehabis subuh, sesuai scenario malam tadi masing-masing kami yang 13 orang menyiapkan perlengkapan dan perbekalan: membeli bekal makan untuk perjalanan nanti (antara lain: roti, nasi untuk makan siang dan malam, mie instant, gula, teh, susu,kopi, etc), menyiapkan pakaian yang akan dibawa serta obat-obatan. Lalu setelah semua beres, persiapan ihram : Mandi, memakai wewangian,mengenakan kain ihram yang 2 lembar itu, setelah Ok, pas Pukul 08.00, kami berkumpul disalah satu mahtab yaitu mahtab yang ditempati ust.Legawan (beberapa saat sebelum berangkat mulai pasang niat dan melafadzkan " Labbaika Allahumma Hajjan", maka mulai berlakulah pantangan ihram). Kemudian Pukul 08.30 rombongan kami dilepas oleh salah seorang ust yang pernah menjabat ketua MUI Sumsel, dengan membaca do’a safar, wah perasaan waktu itu sungguh luar biasa, terharu dan bersyukur banget rasanya bisa dilepas oleh salah seorang ustadz yang cukup bepengaruh. Perlengkapan waktu itu aku masukkan dalam tas ransel sementara mertua abangku yang perempuan menggunakan troley (ee..ternyata enakan pake troley karena tinggal ditarik ngga’ capek bahu menggendong beban), kalau suaminya walaupun sudah berumur diatas 60 an tahun namun masih semangat untuk perjalanan tanazul ini. Pagi itu kami melewati jembatan Hafair menuju masjidil Haram dan terus menerus mengucapkan Talbiyah (jarak makkah - Mina +/- 7 Km kalau ditempuh dengan santai sekitar 3 - 4 jam), kemudian lewat jalan menyisir masjid sebelah kanan (depan Hotel Hilton) menuju ke arah rumah kelahiran Rasulullah SAW, kemudian melewati dua terowongan yang menuju Ajiziyah (ini bukan terowongan Mina, terowongan ini dibuat oleh pemerintah Saudi untuk membuat jarak Mekkah - Mina semakin pendek, karena membobol bukit, jalan yang dilalui juga tidak bercampur dengan kendaraan sehingga cukup nyaman dan aman). Perjalanan waktu itu sangat santai dan lambat karena luapan jemaah dari segala penjuru dunia, ada yang menggendong anak, menggunakan kursi roda, ada yang bertongkat, ada yang muda usia ada yang sudah sepuh, Subhanallah mereka semua ikhlas untuk menyempurnakan ibadah haji tahun ini dan beruntung aku merupakan bagian dari mereka. Disepanjang perjalanan kalau bertemu jamaah haji Indonesia yang kebetulan tidak ikut Tanazul ketika mereka tahu kalau kami sedang melakukan tanazul, maka nampak raut diwajah mereka sebenarnya mereka juga ingin menjalankan haji seperti ini, namun karena ketidaktahuan mereka, mereka hanya pasrah diatur oleh KBIHnya, mereka mendoakan kami agar selamat sampai ditujuan dan mendapat haji mabrur. Subhannallah suara Talbiyah yang menggema di sepanjang jalan menuju ke arah Mina dari ribuan jamaah haji dari segala penjuru bumi, mengumandangkan kalimat Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik kalasyarikalaka labbaik, innal hamda wa nikmata lakawalmulk la syarikalak.
Masjid Jami' bin baaz di kawasan Azijiyah yang kami lewati
Di daerah Ajiziyah kami berhenti sebentar, aku membeli ayam bakar di resto khas Turkey (harganya 6 Rls untuk 1 ekor), kemudian beli buah-buahan disepanjang jalan banyak yang jualan ( 1 Kg 5 Rls). Ngisi botol minum dengan air zamzam dari kran yang banyak ditemui disepanjang jalan Ajiziyah. Setelah istirahat +/- 10 menit, kami melanjutkan perjalanan lewat jalur bawah (karena kalau lewat atas merupakan jalur kendaraan terlalu jauh), terus menyusuri area jamarat (Aqobah, Wusta, Ula), kemudian masuk terowongan Moasim (lebih dikenal dengan nama terowongan Mina).

JCH yang menuju Mina, memasuki terowongan (tunnel Moasim)
Sebelum masuk ke area Mina, disitu banyak petugas (aparat keamanan) yang melakukan sweeping terhadap barang bawaan jamaah mereka menyita barang-barang seperti : payung, tenda, dan benda lain yang dianggap membahayakan perjalanan karena begitu padatnya jamaah yang melakukan perjalanan tanazul ini. Di Area Mina kami berhenti untuk istirahat, ada yang memanfaatkan waktu ini ke Toilet. Sekitar 10 menit istirahat kami melanjutkan perjalanan melalui terowongan (ada 2 terowongan yang akan kita lalui). Pas diakhir terowongan yang kedua kami belok kekanan karena disitu sudah awal dari penempatan tenda-tenda jamaah haji Indonesia selama berada di Mina.

Salah satu peta perkemahan yang ditempatkan diujung terowongan Moeasim
Kebetulan ada peta yang terpampang diarea akhir terowongan tersebut, kami mencari nomor Tenda sesuai dengan nomor maktab, tidak sulit mencarinya. Di tenda-tenda yang ada di Mina sebenarnya dijaga oleh penjaga sehingga hanya jemaah haji yang memiliki tanda pengenal maktab yang sesuai nomor tenda yang diperbolehkan masuk.
Suasana di Mina masih lengang tatkala hari TarwiyahSuasana istrirahat di tenda di Mina, pada hari Tarwiyah


Alhamdulillah kami bisa masuk dan melepaskan lelah di Tenda yang ber AC dan luas (karena tenda yang isinya ratusan orang saat itu hanya diisi kami 13 orang). Saat itu jam tanganku menunjukkan pukul 11.00 waktu Arab Saudi. Artinya 3 jam lama perjalanan kami dari maktab sampai ke tenda. Setelah bersalaman, istirahat, ikhwan (pria) dipisahkan dengan akhwat (wanita), lalu masing-masing membuka bekal makan siang...ya karena sudah lapar. Santapanpun dimulai. Shalat Dzuhur, kami yang laki-laki menuju ke masjid disekitar tenda (kebetulan ada masjid yang dekat). Selama di Mina, semua shalat dilakukan secara qosar pada waktunya (kecuali subuh dan maghrib dilakukan sebagaimana mestinya yaitu 2 rakaat dan 3 rakaat). Selama ditenda, Ust. Legawan selalu update info ke Karom yang berada di Arafah, dimana jemaah yang tidak ikut tanazul berangkat ke Arafah menggunakan Bus, ba’da Ashar dan ada juga yang ba’da Isya’ bergerak dari Mekkah tergantung qur'ah (undian). Ketika jamaah haji Indonesia sampai di Arafah itulah mulai terdengar informasi tentang tidak diperolehnya pembagian jatah makanan (musibah kelaparan Jamaah Haji Indonesia pada tahun 1427H cukup membuat malu pemerintah Indonesia kala itu).
Antri membeli makanan di sekitar Tenda di Mina
Pingin makan Bakso , disekitar tenda di Arafah dan Mina banyak yang jual Mau Pecel atau Gado-gado juga ada...

Sedangkan di Mina, Anda tidak usah khawatir akan makan karena disekitar tenda kita banyak yang jual makanan, buah-buahan dan minuman. Berbagai menu makanan dapat Anda nikmati, harganyapun wajar aja seperti harga-harga makanan di Mekkah. Jadi Anda tidak usah khawatir masalah makan di Mina.
Pada waktu sholat ashar, kami tidak ke masjid namun berjamaah dengan rombongan Tanazul lain, sholat dilaksanakan dengan memakai satu tenda. Kemudian setelah sholat pimpinan rombongan tadi memberikan tausyiah serta rencana keberangkatan besok pagi. Mengingat rombongan tersebut akan menggunakan Bus menuju Arafah sedangkan kami jalan kaki yang mungkin akan kami tempuh selama 3 jam. Aku memberanikan diri mohon bantuan kekelompok tersebut apabila diijinkan kami bisa menumpang Bus tersebut walaupun harus duduk dibawah seandainya tidak cukup kursi lagi. Alhamdulillah, respons dari jemaah haji tersebut menyambut baik namun mereka harus minta ijin terlebih dahulu ke ketua kloter yang tidak ikut dalam rombongan tsb, namun secara prinsip tidak ada masalah. Ba’da Isya kami mendapat kepastian bahwa rombongan kami boleh ikut Bus besok pagi dan kalau tidak keberatan kami diminta untuk memberi tips aja kepada supir, kami diminta keikhlasan bayar uang +/- 30 Rls untuk 13 orang. Setelah aku koordinasikan dengan rekan-rekan lain dan ketua kelompok kami (ust.Legawan) semua setuju dan beres urusan.

Bergerak menuju Arafah
Masjid Namirah

Pagi hari kami bersiap untuk bergerak ke Arafah, dan kami putuskan untuk meninggalkan barang-barang bawaan di tenda ini, seperti ransel dan tas yg tidak perlu digunakan di Arafah karena toh disana kami hanya wukuf dan ba'da maghrib segera bertolak ke Muzdalifah sesuai undian antar kloter (semua tas kami kunci dan diletakkan disudut tenda, aman koq karena ada penjaga disana), setelah mendapat makanan gratis dari pengurus tenda (banyak makanan yg tidak bisa dikirim ke Arafah karena kesulitan transportasi akhirnya makanan dibagi-bagi secara gratis), kurang lebih pukul 10.00 (tanggal 9 Dzulhijah 1427 H), kami bertolak menuju Arafah perjalanan memakan waktu +/- 45 menit. Di dalam bus kami yang 13 orang mendapat perlakuan istemewa dari jamaah yang memberi tumpangan kepada kami, walaupun Bus sudah tidak mempunyai tempat duduk lagi tetapi mereka memberikan tempat duduk kepada kami dan justru beberapa orang dari jamaah yang memberi tumpangan berdiri sampai kami tiba di tenda di Arafah, Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan haji mabrur. Kami diturunkan tepat didepan tenda jemaah yang memberi tumpangan, lalu kamipun turun dan bergerak mencari tenda rombongan kami, Alhamdulillah tidak terlalu sulit +/- 5 menit kami sudah mendapatkan kelompok kloter kami. Di Arafah ternyata kami sudah disambut oleh ustadz dan rekans jamaah haji lainnya, bak pahlawan yang baru pulang dari medan perang aja..he he. Terus kata ustadz. kami sudah disiapkan tenda khusus untuk 13 orang, Alhamdulillah ternyata semua jemaah memberi prioritas kepada kami begitu luar biasa, semoga Allah membalas kebaikan mereka. Habis itu persiapan wukuf.......( Baca Pengalaman wukuf)
Perjalanan ini tentunya sangat melelahkan namun segala aktifitas jika kita ikhlas dan memohon ridho Allah, InsyaAllah akan menjadi ringan.
Tips. Jika Anda tidak mempunyai rombongan sendiri maka Anda bisa mencari informasi KBIH lain yang akan melaksanakan Tanazul pada hari Tarwiyah, jika tidak tahu sama sekali ada KBIH Darut Tauhid pimpinan A'a Gym dari Bandung, KBIH ini menyediakan pembimbing untuk yang mau Tanazul. Namun bagi yang sudah sepuh dan tidak bisa jalan kaki untuk Tanazul, maka ada rombongan yang langsung menuju Arafah. Anda bisa menanyakan kapan waktu mereka bergerak, dimana kumpulnya rombongan, nanti ikut aja dalam rombongan atau kalau tidak Anda bisa menunggu di Masjidil Haram dipintu dekat Rumah kelahiran Rasulullah, nanti bisa Anda temui rombongan-rombongan yang bergerak Tanazul sehabis Shalat Subuh atau Dhuha. Mintalah ijin ke ketua rombongan jika Anda berniat Tanazul jauh hari sebelum tanggal 8 Dzulhijah, jika Anda diminta untuk buat surat pernyataan maka tidak apa penuhi saja prosedur ini jika memang diperlukan. Kemudian dari Mina ke Arafah aturlah waktu bergerak jangan terlalu siang, sebaiknya sebelum subuh atau ba'da subuh agar terhindar dari kemacetan dan panas. Kalau mau juga banyak angkutan yang menawarkan angkutan ke Arafah.
Suasana perjalanan tanazul dapat Anda lihat melalui postingan KBIH Darut Tauhid Bandung, sehingga dapat memberi gambaran kepada Anda yang dalam pelaksanaan ibadah hajinya tahun ini berniat akan menyempurnakan pelaksanaannya, baik rukun, wajib maupun sunnah sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Yang melakukan tanazul, tidak harus berusia muda, karena tidak ada jaminan bahwa yang sudah usia lanjut tidak bisa melakukan hal ini, karena ketika kita berserah diri kepada Allah, maka Allah lah penolong kita.

Timbul pertanyaan :
? kalau yang masih mudah dan kuat sih bisa aja Tanazul, lha kalau yg sudah sepuh gimana apa mau maksain ikut jalur beginian.
+ Alhamdulillah, jika Anda berangkat haji masih diusia muda dan sehat karena sangat diutamakan yang demikian. Jika Anda sudah sepuh, Allah Maha mengetahui dan tidak akan membebani apa yang tidak sanggup dipikul oleh hambaNya.
? kalau yang sudah berpengalaman sih, iya bisa ber tanazul. Kalau yang belum pernah kan ngga' tahu jalannya gimana, terus menginap dimana, dan lain-lain
+ Untuk itulah aku sharing informasi ini ternyata, tanazul itu tidak sulit. dulu aku juga belum pernah Tanazul koq. Haji merupakan jihad, nah yang namanya jihad ya..Lillahi ta'ala, serahkan semuanya hanya kepada Allah. Tetapi jangan dengan modal nekat doang, tetapi harus punya cukup ilmu. Ilmunya kan sudah aku sharing, tinggal punya niat ngga'
htttp://www.youtube.com/watch?v=v7CmUREjAf4
http://www.youtube.com/watch?v=juv9psmWsgw
http://www.youtube.com/watch?v=DQ55H2V4rBQ
http://www.youtube.com/watch?v=A4Hxhda9o0c
http://www.youtube.com/watch?v=DnD-P5UisTI
http://www.youtube.com/watch?v=iJEmmp6y0Z0
http://www.youtube.com/watch?v=mn98U1-VvRU
http://www.youtube.com/watch?v=JQOcrx7lP90

Sunday, October 25, 2009

Mengharap Cinta-Mu di Arafah

Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan bahwa hari wukuf di Arafah dipercepat satu hari dari jadwal semula. Percepatan ini disambut gembira oleh jemaah haji dari seluruh dunia. Pasalnya, dengan percepatan itu berarti hari wukuf jatuh pada Jumat, 29 Desember 2007. Dengan demikian haji tahun ini merupakan haji akbar, kata-kata haji akbar begitu menggema menjadi kabar gembira bagi jamaah haji pada tahun 1427 H, disebut haji akbar karena bertemunya dua hari yang mulia. Apa ada hadistnya tentang haji akbar dimana pahalanya sama dengan 27 kali haji biasa, menurut penjelasan ulama Saudi ketika aku mendengar ceramah disalah satu masjid dekat makhtab, itu tidak ada.wallahualam.


Setelah sampai dari perjalanan tanazul untuk melaksanakan sunnah Tarwiyah dan berpisah dari rombongan besar akhirnya kami berkumpul lagi di tenda di Arafah. Setelah bersalaman dan berpelukan dengan jamaah disitu. Beserta isteri dan mertua abangku menempati tenda yang diperuntukkan untuk kami yg melaksanakan tanazul kemarin, karena rekans yang lain ikut bergabung di tenda besar.Lega rasanya bisa sampai dan berkumpul dengan rombongan di Arafah sebelum pelaksanaan Wukuf. Karena ini menyangkut rukun haji, kalau rukun tidak bisa diganti dengan dam artinya kalau kita tidak melaksanakan rukun haji maka dipastikan hajinya batal atau tidak sah. Suasana Arafah sebelum Wukuf
Begitu pentingnya wukuf di Arafah ini sebagaimana diriwayatkan dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar :

"Wukuf yang kamu lakukan pada hari Arafah, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia (paling bawah) dan berbangga-bangga dengan kamu kepada malaikat dengan firmanNya "Hamba-hambaKu datang dari segenap pelosok dunia yang jauh, dalam keadaan tidak terurus dan berdebu-debu tubuh mereka, semata-mata mengharapkan syurga-Ku. Jika mereka datang dengan dosa sebanyak bilangan pasir, titisan hujan atau buih di lautan niscaya Aku akan menghapuskan kesemuanya. Allah berfirman : "Keluarlah kamu daripada Arafah dengan dosa yang telah diampunkan daripada kamu dan bagi sesiapa yang kamu meminta ampun untuk mereka." (wallahualam tentang derajat/ sanad dari hadist ini).

Begitu pentingnya. Begitu banyak ampunan-Nya. Begitu berharganya momen wukuf di Arafah. Karena inilah inti perjalanan haji sebagaimana Rasulullah juga bersabda

" Haji itu hadir di Arafah. Barang siapa yang datang pada malam hari jama' (10 Dzulhijah sebelum terbit fajar) maka sesungguhnya ia masih mendapatkan haji."

Setelah menempatkan ransel bawaan, aku mulai mempersiapkan diri untuk pelaksanaan wukuf, mandi, wudhu. Waktu masih menunjukkan pukul 11.30, masih ada waktu pikirku untuk membuat minuman penghangat tubuh, karena dari cerita jemaah di tenda bahwa kawan-kawan belum mendapat pembagian jatah makan dari kemarin. Di ranselku masih ada makanan ringan, susu, kopi, gula,roti. Aku coba mencari air panas….setelah mencari kesana kemari ternyata nihil, dispencer yang ada tidak ada stop kontaknya, aliran listrik juga bermasalah siang itu. Gagal deh secangkir kopi/teh hangat siang ini.
Beberapa saat kemudian suara dari megaphone bergema, yang meminta para jamaah mulai berkumpul di tenda besar, jemaah diminta membawa alas sajadah masing-masing. Aku selalu menyampaikan manasik ke isteri dan kedua mertua abangku setiap akan memulai rangkaian kegiatan ibadah haji, sekadar mengingatkan kembali agar mereka bisa melaksanakan setiap rangkaian ritual haji dengan sempurna.
Susunan acara prosesi wukuf yang akan dilaksanakan pada pukul 11.45 karena waktu Dhuhur pukul 12.21 waktu Arab Saudi :
  1. Pembukaan
  2. Pembacaan ayat suci Al Qur’an
  3. Sambutan ketua kloter
  4. Khutbah Wukuf
  5. Adzan Dhuhur,Sholat Dhuhur,
  6. Dzikir Wukuf yang dibimbing oleh team
Memasuki Khutbah wukuf yang disampaikan oleh Ustadz. Drs. H.Ayi Ali Idrus, kalimat per kalimat dengan khusu’ disimak oleh jemaah haji saat itu termasuk aku yang duduk di sisi kanandepan saf. Aku mulai mengucurkan air mata. Berikut penggalan khutbah yang aku tangkap : “Kita sekarang berada pada haji Akbar, sebagaimana Rasulullah SAW pada saat melaksanakan haji juga wukufnya jatuh pada hari jum’at, suatu hal yg juga tidak mudah kita dapatkan, ini semua adalah karunia Allah SWT yang telah memilih kita semua untuk bisa hadir ditempat ini pada hari ini, sehingga kita mendapat kesempatan untuk mendapatkan haji akbar, tentunya sesuatu yang mulia, sesuatu yang besar, godaan dan tantangannyapun luar biasa, kita sudah merasakan godaan itu sejak malam tadi, kita sudah merasakan bahwa perut kita lapar tetapi InsyaAllah hati kita tidak lapar” sampai kalimat ini semakin deras air mata keluar, ada rasa bangga dipilih Allah pada saat-saat mulia ini ada rasa khawatir jangan-jangan aku tidak ikhlas menerima cobaan dari Allah. Ustadz melanjutkan “ Hati kita bercahaya dengan Nur Ilahi, sikap kita tetap tawakal dan pasrah kepada Allah SWT, kita akan menerima dengan ikhlas kondisi yang ada ini, dan mudah-mudahan ini merupaka ujian yang terberat bagi kita dan apabila kita lulus dalam ujian ini kita akan mendapat kedudukan yang mulia pula disisi Allah SWT. Seraya kita bermohon kepada Allah semoga cobaan-cobaan yang dating sejak malam tadi sampai saat ini yang belum pernah dialami oleh para jamaah haji yang berwukuf di Arafah segera dihilangkan dan diangkat oleh Allah swt dan digantikannya dengan yang lebih baik . amin Allahumma amin……. "

Semua jemaah haji tertunduk penuh khusu’ terus menyimak kalimat demi kalimat yang disampaikan dalam khutbah wukuf terkadang gemetar mendengar kalimat-kalimat Al quran yang disampaikan, terkadang sejuk menusuk relung hati, terkadang takut akan siksa Allah, semua bergejolak dalam dada. Setelah khutbah wukuf, dilanjutkan sholat Dhuhur dan Ashar di jama’ qasar.
Perbanyaklah Berzikir dan berdo'a

Prosesi Dzikir Wukuf, aku dan isteri tidak ikut dalam rombongan di tenda besar, karena aku akan mengadu dan bertemu langsung kepada sang maha pencipta secara personal. Aku mengajak isteri menuju tenda kecil kami, aku siapkan makanan kecil (buah kurma, roti, juice kotak, sebotol air zamzam paket ini aku berikan juga ke isteri). Aku dan isteri sudah sepakat untuk mengahabiskan waktu wukuf dari dimulainya pelaksanaan wukuf sampai terbenamnya matahari dengan tidak meninggalkan sajadah.
Aku memilih tempat dibagian depan tenda, lalu kualaskan sajadah, kusiapkan buku-buku dzikir dan do’a yang kubawa dari tanah air serta buku manasik pemberian pemerintah Arab Saudi. Satu lagi …sapu tangan dan handuk kecil mulai kuletakkan dipangkuanku, karena aku yakin air mata akan mengalir tatkala asyik bermunajat kehadapan Allah.
Aku dan isteri saling bermaafan juga dengan kedua mertua abangku dan dengan sesama jamaah yang ada, sebelum memasuki pelaksanaan dzikir wukuf. Saling memaafkan adalah sangat penting untuk membersihkan hubungan dengan sesama sehingga memudahkan kita untuk berhadapan dengan Allah. Ada juga cerita dari jemaah, di jamaah kami ada sepasang suami isteri yg sudah sepuh dimana sang suami tidak mau memaafkan kesalahan isterinya ketika di Padang Arafah ini sang isteri minta maaf ke si Bapak, walaupun sudah dibujuk oleh ketua rombongan. Astaghfirullah….koq bisa ya.
Tak ada do’a khusus yang aku panjatkan, 99 % aku memohon ampunan dosa yang telah kuperbuat selama ini sisanya hanya beberapa kalimat do'a untuk kebaikan didunia, aku juga memohonkan ampunan kepada kedua orang tuaku, isteri dan anak-anakku
.

"Ya Rabb, engkaulah dzat yang maha menguasai jiwa ini, aku mohonkan kehadapanMu sedikit kemurahan kasih sayangMu untuk mengampuni dosa-dosa yang telah hambaMu ini lakukan. Ya Allah sisakan sedikit surgamu untuk hambaMu yang bergelimang dengan dosa."
Air mata dan cairan dari hidung (ingus) membasahi saputangan dan handuk seperti tertumpah di air. Semakin mendekati matahari terbenam isak tangis semakin menjadi, karena waktu untuk bertemu dengan sang Khalik tentunya dalam hitungan menit, aku akan segera berpisah dalam bagian terpenting dihadapan Allah, tanpa sadar tangisan bisa menjadi sesenggukan bagai anak kecil yang maraung-raung, semua tumpah ditempat itu. Sesekali aku lihat isteri mengisi setiap detik ditenda (posisinya disudut belakang tenda) dengan dzikir, do’a dan qiraat Al Qur’an.
Ketika terdengar suara Adzan bertanda Sholat Maghrib telah tiba sekaligus menandakan berakhirnya waktu wukuf. Alhamdulillah aku bersujud syukur karena bisa melalui wukuf tanpa tergoda untuk mencari makanan, berphoto ria, ngobrol kesana-kemari sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian jamaah disana.
Aku bersyukur dengan adanya cobaan ini sehingga waktu wukuf di Arafah aku pergunakan hanya untuk memohon ampunan Allah (karena pada hajiku yang pertama di 1423 H, aku tidak menyelesaikan pelaksanaan wukuf sampai terbenam matahari, karena terputus oleh adanya pembagian makan dan aku merasa juga sudah cukup…ahh dasar bodoh waktu itu).
Selanjutnya menyiapkan diri ke kamar mandi, menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke Mudzdalifah. Kebetulan rombongan kami mendapat urutan pertama (hasil undian) untuk bergerak ke Mudzdalifah sehabis Maghrib. Aku dan isteri menunggu didepan tenda ketika rombongan kami melaksanakan Sholat maghrib dan Isya di jama’ qasar di Arafah. Aku bilang ke isteri kita akan sholat di Mudzdalifah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Waktu kita masih panjang disana, kita siapkan aja wudhu dari sini. Nah biasanya KBIH mencari mudahnya aja, dengan alasan macam-macam, nanti kondisi disana yang tidak bisa diprediksilah, dll. Makanya kita harus menguasai ilmu manasik, sehingga kita sendiri yang memutuskan mengikuti anjuran KBIH atau mencontoh Rasulullah, bukankah Rasul memerintahkan agar kita mengambil contoh manasik dari beliau.
Pilihan Lokasi Wukuf Anda, mempengaruhi sauasana khusu'

Alhamdulillah Wukuf di Arafah dapat kami jalani karena kemurahan dan kasih sayang Allah. Kemurahan Allah karena kami terpilih menjadi tamunya di tempat yang mulia ditempat dimana Allah paling banyak memberikan ampunan kepada hambaNya. Waktu dan tempat dimana sangat diidam-idamkan dan dimimpikan oleh jutaan ummat muslim sedunia. Allah telah memberikan jamuan yang istimewa yang hanya dengan rasa iman yang tinggi kita akan mengetahui balasan dari jamuan Allah tersebut. Ketika ada jamaah yang mengeluh karena masalah katering, aku bilang : ”inilah cara Allah untuk menyeleksi siapa-siapa hambaNya yang layak untuk mendapatkan predikat mabrur (InsyaAllah). ya...InsyaAllah jika kita ikhlas kita akan diwisuda oleh Allah yang disaksikan para malaikatnya, Allah dengan bangga akan mengumumkan kita sebagai lulusan terbaik dengan predikat haji Mabrur. Allah tidak mungkin menyengsarakan hambaNya, buktinya dengan kelaparan yang ada kita diberi kekuatan, kita diberi kesehatan, kita diberi kemudahan dari sini saja sudah luar biasa balasan yang Allah bayar cash di padang Arafah ini dan InsyaAllah untuk hari-hari kedepan.

Suasana lain ketika di Arafah (berphoto, merokok, senda gurau,dll. sumber photo :http://haji-2008.blogspot.com/)
Untuk Saudara-saudaraku yang akan menunaikan ibadah haji, jangan sia-siakan peluang dan keberuntungan yang sudah Allah berikan kepada Anda di Arafah ini, sedih rasanya melihat dan menyaksikan saudaraku jamaah haji yang melewatkan begitu saja setiap waktu di Arafah ini tanpa dzikir dan memohon ampunan kepada Allah. Tahanlah keinginan Anda untuk berphoto, merokok, dan membicarakan hal-hal duniawi ketika wukuf berlangsung. Subhanallah, jangan buang kesempatan yang sudah Allah berikan kepada Anda sebagai tamuNya di tanah suci ini, Ibadah haji menjadi tangisan jutaan ummat manusia kepada Sang pencipta, agar mereka diberi kesempatan datang ke Baitullah dan saat ini Anda yang diberi kesempatan itu. Semoga Anda bijak memilih kesempatan baik ini dengan amalan-amalan dzikir mohon ampunan Allah daripada kegiatan duniawi yang hanyalah tipuan dunia semata.
Wallahualam bishowab.
source photo internet (mohon izin, jika ada yang keberatan mohon hubungi saya).