Sunday, October 25, 2009

Mengharap Cinta-Mu di Arafah

Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan bahwa hari wukuf di Arafah dipercepat satu hari dari jadwal semula. Percepatan ini disambut gembira oleh jemaah haji dari seluruh dunia. Pasalnya, dengan percepatan itu berarti hari wukuf jatuh pada Jumat, 29 Desember 2007. Dengan demikian haji tahun ini merupakan haji akbar, kata-kata haji akbar begitu menggema menjadi kabar gembira bagi jamaah haji pada tahun 1427 H, disebut haji akbar karena bertemunya dua hari yang mulia. Apa ada hadistnya tentang haji akbar dimana pahalanya sama dengan 27 kali haji biasa, menurut penjelasan ulama Saudi ketika aku mendengar ceramah disalah satu masjid dekat makhtab, itu tidak ada.wallahualam.


Setelah sampai dari perjalanan tanazul untuk melaksanakan sunnah Tarwiyah dan berpisah dari rombongan besar akhirnya kami berkumpul lagi di tenda di Arafah. Setelah bersalaman dan berpelukan dengan jamaah disitu. Beserta isteri dan mertua abangku menempati tenda yang diperuntukkan untuk kami yg melaksanakan tanazul kemarin, karena rekans yang lain ikut bergabung di tenda besar.Lega rasanya bisa sampai dan berkumpul dengan rombongan di Arafah sebelum pelaksanaan Wukuf. Karena ini menyangkut rukun haji, kalau rukun tidak bisa diganti dengan dam artinya kalau kita tidak melaksanakan rukun haji maka dipastikan hajinya batal atau tidak sah. Suasana Arafah sebelum Wukuf
Begitu pentingnya wukuf di Arafah ini sebagaimana diriwayatkan dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar :

"Wukuf yang kamu lakukan pada hari Arafah, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia (paling bawah) dan berbangga-bangga dengan kamu kepada malaikat dengan firmanNya "Hamba-hambaKu datang dari segenap pelosok dunia yang jauh, dalam keadaan tidak terurus dan berdebu-debu tubuh mereka, semata-mata mengharapkan syurga-Ku. Jika mereka datang dengan dosa sebanyak bilangan pasir, titisan hujan atau buih di lautan niscaya Aku akan menghapuskan kesemuanya. Allah berfirman : "Keluarlah kamu daripada Arafah dengan dosa yang telah diampunkan daripada kamu dan bagi sesiapa yang kamu meminta ampun untuk mereka." (wallahualam tentang derajat/ sanad dari hadist ini).

Begitu pentingnya. Begitu banyak ampunan-Nya. Begitu berharganya momen wukuf di Arafah. Karena inilah inti perjalanan haji sebagaimana Rasulullah juga bersabda

" Haji itu hadir di Arafah. Barang siapa yang datang pada malam hari jama' (10 Dzulhijah sebelum terbit fajar) maka sesungguhnya ia masih mendapatkan haji."

Setelah menempatkan ransel bawaan, aku mulai mempersiapkan diri untuk pelaksanaan wukuf, mandi, wudhu. Waktu masih menunjukkan pukul 11.30, masih ada waktu pikirku untuk membuat minuman penghangat tubuh, karena dari cerita jemaah di tenda bahwa kawan-kawan belum mendapat pembagian jatah makan dari kemarin. Di ranselku masih ada makanan ringan, susu, kopi, gula,roti. Aku coba mencari air panas….setelah mencari kesana kemari ternyata nihil, dispencer yang ada tidak ada stop kontaknya, aliran listrik juga bermasalah siang itu. Gagal deh secangkir kopi/teh hangat siang ini.
Beberapa saat kemudian suara dari megaphone bergema, yang meminta para jamaah mulai berkumpul di tenda besar, jemaah diminta membawa alas sajadah masing-masing. Aku selalu menyampaikan manasik ke isteri dan kedua mertua abangku setiap akan memulai rangkaian kegiatan ibadah haji, sekadar mengingatkan kembali agar mereka bisa melaksanakan setiap rangkaian ritual haji dengan sempurna.
Susunan acara prosesi wukuf yang akan dilaksanakan pada pukul 11.45 karena waktu Dhuhur pukul 12.21 waktu Arab Saudi :
  1. Pembukaan
  2. Pembacaan ayat suci Al Qur’an
  3. Sambutan ketua kloter
  4. Khutbah Wukuf
  5. Adzan Dhuhur,Sholat Dhuhur,
  6. Dzikir Wukuf yang dibimbing oleh team
Memasuki Khutbah wukuf yang disampaikan oleh Ustadz. Drs. H.Ayi Ali Idrus, kalimat per kalimat dengan khusu’ disimak oleh jemaah haji saat itu termasuk aku yang duduk di sisi kanandepan saf. Aku mulai mengucurkan air mata. Berikut penggalan khutbah yang aku tangkap : “Kita sekarang berada pada haji Akbar, sebagaimana Rasulullah SAW pada saat melaksanakan haji juga wukufnya jatuh pada hari jum’at, suatu hal yg juga tidak mudah kita dapatkan, ini semua adalah karunia Allah SWT yang telah memilih kita semua untuk bisa hadir ditempat ini pada hari ini, sehingga kita mendapat kesempatan untuk mendapatkan haji akbar, tentunya sesuatu yang mulia, sesuatu yang besar, godaan dan tantangannyapun luar biasa, kita sudah merasakan godaan itu sejak malam tadi, kita sudah merasakan bahwa perut kita lapar tetapi InsyaAllah hati kita tidak lapar” sampai kalimat ini semakin deras air mata keluar, ada rasa bangga dipilih Allah pada saat-saat mulia ini ada rasa khawatir jangan-jangan aku tidak ikhlas menerima cobaan dari Allah. Ustadz melanjutkan “ Hati kita bercahaya dengan Nur Ilahi, sikap kita tetap tawakal dan pasrah kepada Allah SWT, kita akan menerima dengan ikhlas kondisi yang ada ini, dan mudah-mudahan ini merupaka ujian yang terberat bagi kita dan apabila kita lulus dalam ujian ini kita akan mendapat kedudukan yang mulia pula disisi Allah SWT. Seraya kita bermohon kepada Allah semoga cobaan-cobaan yang dating sejak malam tadi sampai saat ini yang belum pernah dialami oleh para jamaah haji yang berwukuf di Arafah segera dihilangkan dan diangkat oleh Allah swt dan digantikannya dengan yang lebih baik . amin Allahumma amin……. "

Semua jemaah haji tertunduk penuh khusu’ terus menyimak kalimat demi kalimat yang disampaikan dalam khutbah wukuf terkadang gemetar mendengar kalimat-kalimat Al quran yang disampaikan, terkadang sejuk menusuk relung hati, terkadang takut akan siksa Allah, semua bergejolak dalam dada. Setelah khutbah wukuf, dilanjutkan sholat Dhuhur dan Ashar di jama’ qasar.
Perbanyaklah Berzikir dan berdo'a

Prosesi Dzikir Wukuf, aku dan isteri tidak ikut dalam rombongan di tenda besar, karena aku akan mengadu dan bertemu langsung kepada sang maha pencipta secara personal. Aku mengajak isteri menuju tenda kecil kami, aku siapkan makanan kecil (buah kurma, roti, juice kotak, sebotol air zamzam paket ini aku berikan juga ke isteri). Aku dan isteri sudah sepakat untuk mengahabiskan waktu wukuf dari dimulainya pelaksanaan wukuf sampai terbenamnya matahari dengan tidak meninggalkan sajadah.
Aku memilih tempat dibagian depan tenda, lalu kualaskan sajadah, kusiapkan buku-buku dzikir dan do’a yang kubawa dari tanah air serta buku manasik pemberian pemerintah Arab Saudi. Satu lagi …sapu tangan dan handuk kecil mulai kuletakkan dipangkuanku, karena aku yakin air mata akan mengalir tatkala asyik bermunajat kehadapan Allah.
Aku dan isteri saling bermaafan juga dengan kedua mertua abangku dan dengan sesama jamaah yang ada, sebelum memasuki pelaksanaan dzikir wukuf. Saling memaafkan adalah sangat penting untuk membersihkan hubungan dengan sesama sehingga memudahkan kita untuk berhadapan dengan Allah. Ada juga cerita dari jemaah, di jamaah kami ada sepasang suami isteri yg sudah sepuh dimana sang suami tidak mau memaafkan kesalahan isterinya ketika di Padang Arafah ini sang isteri minta maaf ke si Bapak, walaupun sudah dibujuk oleh ketua rombongan. Astaghfirullah….koq bisa ya.
Tak ada do’a khusus yang aku panjatkan, 99 % aku memohon ampunan dosa yang telah kuperbuat selama ini sisanya hanya beberapa kalimat do'a untuk kebaikan didunia, aku juga memohonkan ampunan kepada kedua orang tuaku, isteri dan anak-anakku
.

"Ya Rabb, engkaulah dzat yang maha menguasai jiwa ini, aku mohonkan kehadapanMu sedikit kemurahan kasih sayangMu untuk mengampuni dosa-dosa yang telah hambaMu ini lakukan. Ya Allah sisakan sedikit surgamu untuk hambaMu yang bergelimang dengan dosa."
Air mata dan cairan dari hidung (ingus) membasahi saputangan dan handuk seperti tertumpah di air. Semakin mendekati matahari terbenam isak tangis semakin menjadi, karena waktu untuk bertemu dengan sang Khalik tentunya dalam hitungan menit, aku akan segera berpisah dalam bagian terpenting dihadapan Allah, tanpa sadar tangisan bisa menjadi sesenggukan bagai anak kecil yang maraung-raung, semua tumpah ditempat itu. Sesekali aku lihat isteri mengisi setiap detik ditenda (posisinya disudut belakang tenda) dengan dzikir, do’a dan qiraat Al Qur’an.
Ketika terdengar suara Adzan bertanda Sholat Maghrib telah tiba sekaligus menandakan berakhirnya waktu wukuf. Alhamdulillah aku bersujud syukur karena bisa melalui wukuf tanpa tergoda untuk mencari makanan, berphoto ria, ngobrol kesana-kemari sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian jamaah disana.
Aku bersyukur dengan adanya cobaan ini sehingga waktu wukuf di Arafah aku pergunakan hanya untuk memohon ampunan Allah (karena pada hajiku yang pertama di 1423 H, aku tidak menyelesaikan pelaksanaan wukuf sampai terbenam matahari, karena terputus oleh adanya pembagian makan dan aku merasa juga sudah cukup…ahh dasar bodoh waktu itu).
Selanjutnya menyiapkan diri ke kamar mandi, menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke Mudzdalifah. Kebetulan rombongan kami mendapat urutan pertama (hasil undian) untuk bergerak ke Mudzdalifah sehabis Maghrib. Aku dan isteri menunggu didepan tenda ketika rombongan kami melaksanakan Sholat maghrib dan Isya di jama’ qasar di Arafah. Aku bilang ke isteri kita akan sholat di Mudzdalifah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Waktu kita masih panjang disana, kita siapkan aja wudhu dari sini. Nah biasanya KBIH mencari mudahnya aja, dengan alasan macam-macam, nanti kondisi disana yang tidak bisa diprediksilah, dll. Makanya kita harus menguasai ilmu manasik, sehingga kita sendiri yang memutuskan mengikuti anjuran KBIH atau mencontoh Rasulullah, bukankah Rasul memerintahkan agar kita mengambil contoh manasik dari beliau.
Pilihan Lokasi Wukuf Anda, mempengaruhi sauasana khusu'

Alhamdulillah Wukuf di Arafah dapat kami jalani karena kemurahan dan kasih sayang Allah. Kemurahan Allah karena kami terpilih menjadi tamunya di tempat yang mulia ditempat dimana Allah paling banyak memberikan ampunan kepada hambaNya. Waktu dan tempat dimana sangat diidam-idamkan dan dimimpikan oleh jutaan ummat muslim sedunia. Allah telah memberikan jamuan yang istimewa yang hanya dengan rasa iman yang tinggi kita akan mengetahui balasan dari jamuan Allah tersebut. Ketika ada jamaah yang mengeluh karena masalah katering, aku bilang : ”inilah cara Allah untuk menyeleksi siapa-siapa hambaNya yang layak untuk mendapatkan predikat mabrur (InsyaAllah). ya...InsyaAllah jika kita ikhlas kita akan diwisuda oleh Allah yang disaksikan para malaikatnya, Allah dengan bangga akan mengumumkan kita sebagai lulusan terbaik dengan predikat haji Mabrur. Allah tidak mungkin menyengsarakan hambaNya, buktinya dengan kelaparan yang ada kita diberi kekuatan, kita diberi kesehatan, kita diberi kemudahan dari sini saja sudah luar biasa balasan yang Allah bayar cash di padang Arafah ini dan InsyaAllah untuk hari-hari kedepan.

Suasana lain ketika di Arafah (berphoto, merokok, senda gurau,dll. sumber photo :http://haji-2008.blogspot.com/)
Untuk Saudara-saudaraku yang akan menunaikan ibadah haji, jangan sia-siakan peluang dan keberuntungan yang sudah Allah berikan kepada Anda di Arafah ini, sedih rasanya melihat dan menyaksikan saudaraku jamaah haji yang melewatkan begitu saja setiap waktu di Arafah ini tanpa dzikir dan memohon ampunan kepada Allah. Tahanlah keinginan Anda untuk berphoto, merokok, dan membicarakan hal-hal duniawi ketika wukuf berlangsung. Subhanallah, jangan buang kesempatan yang sudah Allah berikan kepada Anda sebagai tamuNya di tanah suci ini, Ibadah haji menjadi tangisan jutaan ummat manusia kepada Sang pencipta, agar mereka diberi kesempatan datang ke Baitullah dan saat ini Anda yang diberi kesempatan itu. Semoga Anda bijak memilih kesempatan baik ini dengan amalan-amalan dzikir mohon ampunan Allah daripada kegiatan duniawi yang hanyalah tipuan dunia semata.
Wallahualam bishowab.
source photo internet (mohon izin, jika ada yang keberatan mohon hubungi saya).

11 comments:

Tantri Nugraha said...

Assalamualaikum wrwb,

Terima kasih banyak untuk tips dan saran serta uraian ibadah haji yg disajikan, banyak manfaat untuk kami yg aka nmelaksanakan ibadah haji, hanya allah yg dapat membalas alam baik umatnya.amiiin

Sentot said...

Assalamualaikum Wr. Wb.

Terima kasih atas semua pencerahannya, semuanya sangat bermanfaat terutama bagi saya pribadi yg belum pernah kesana.
Hanya Allah SWT yg dapat membalasNya. Amin

adiput said...

Alhamdulilah, sangat menolong bagi yang akan menunaikan ibadah haji dan sangat kreatif,

Ratna Januarita said...

Assalamu'alaikumwrwb.

Sdr. Abu Syafwan,

Sore ini mengejutkan sekali bagi saya ketika mencoba memantau spreading buku saya yang terbit akhir Oktober 2008. Dengan mengetikkan judulnya "Di Jamuan Cinta-Mu di Arafah" di Google, ternyata membawa saya ke blog Anda ini.

Tadinya saya mengira bahwa blog Anda meng-quote atau meresensi buku saya seperti blog-blog lainnya yang mencantumkan judul buku saya. Rupanya tidak. Justru saya dibuat kaget dan melongo dengan terpampangnya foto yang cukup menyerupai cover buku saya. Terutama pada huruf dan penulisan judul yang sama persis dengan cover dan judul buku saya.

Saya mohon Anda dapat menjelaskan soal ini. Apabila tidak, berarti Anda sudah melanggar ketentuan hukum yang berkenaan dengan hak cipta.

Terima kasih.

Wassalam,
Ratna Januarita
Penulis buku: Di Jamuan Cinta-Mu di Arafah
Penerbit: IIMaN (Mizan Group)
Terbit pertama kali: Oktober 2008

email: ratna_januarita@yahoo.com

Abu Syafwan said...

Waalaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh,


Ibu Ratna Yang dimuliakan Allah, terima kasih atas koreksi dan tegurannya. Perlu saya jelaskan bahwa saya tidak bermaksud melanggar hak cipta yg ada.Kebetulan saya mendapat email gambar dengan tulisan Di Jamuan Cinta-Mu tsb dan tulisan tsb sangat menyentuh saya sehingga saya melakukan improvisasi dengan menempel ke dalam salah satu gambar yg kebetulan saya download dari internet.

Sedangkan isi cerita Insya Allah adalah pengalaman pribadi.

Dan jika tindakan tsb melanggar kaidah hak cipta (karena saya sendiri belum pernah membaca buku karangan Ibu serta kebodohan saya tidak mencari tahu terlebih dahulu), maka saya yang awam ini mohon maaf serta akan segera menurunkan judul tulisan serta gambar tsb dan mengganti dengan judul yang lain.

Saya tidak ada maksud apapun dibalik editing gambar atau judul tsb, karena tulisan di blog saya hanya ingin berbagi informasi tanpa ada tujuan lain.

Terima kasih atas kearifan Ibu untuk mengingatkan saya.

Dengan senang hati saya remove gambar sebelumnya dan mengganti judul "Di Jamuan Cinta-Mu di Arafah" dengan Mengharap Cinta-Mu di Arafah

Semoga Buku yang ibu Tulis tidak terpengaruh dengan kesalahan saya, Mudah-mudahan buku tsb bermanfaat bagi ummat.



Salam

Ratna Januarita said...

Salam wa rahmah,

Alhamdulillah. Terima kasih untuk respon yang sangat cepat. Dan saya menghargai tindakan Sdr Abu Syafwan yang langsung mengganti judul dan cover foto. Terus terang respon cepat ini sangat melegakan saya ketimbang harus berpanjang-panjang membahas persoalan ini sebagai plagiarisme.

Sebagai sesama muslim yang sudah menempuh perjalanan haji, wajib bagi saya untuk memaafkan tindakan Anda sebagaimana dimintakan, meski apapun alasannya. Apalah saya, masak maaf saja tidak bisa diberikan, Allah yang Maha Besar saja senantiasa mengampuni dosa-dosa kita.

Sekedar untuk diketahui, judul "Di Jamuan Cinta-Mu di Arafah" ini adalah "ramuan" dari editor ahli di IIMaN, awalnya adalah "Kuhadiri Perjamuan Cinta-Mu di Arafah".

Mudah-mudahan, peristiwa ini tidak hanya menjadi pelajaran dan hikmah bagi kita, tapi juga menjadi penaut silaturrahim.

Terima kasih.

Wassalam,
Ratna Januarita
http://ratnajanuarita.multiply.com
@facebook: ratna januarita

dedaunan said...

Bagus banget kerelaan dan tanggapan dari Ibu ratna dan mas AbU Syafwan. cerminan ukhuwah islamiyah. Dan mungkin sedikit kritik dari artikel ini adalah seringkali mas Abu Syafwan menjudge mereka yang tidak melakukan seperti yang mas Abu Syafwan lakukan. Kita tidak tahu ibadah dan doa mana yang paling diterima Allah, mereka atau MAs Abu SyaFWAN. 'aLA KULLI hal saya tetap merekomendasikan blog ini sebagai blog paling lengkap tentang haji untuk dibaca. Sudah saya rekomendasikan di blog saya tentang blog mas Abu Syafwan.

Abu Syafwan said...

dedaunan : syukron atas kritikannya.bener banget segala amal perbuatan kita hanya Allah yang tahu apakah diterima atau tidak. Tetapi kita wajib memiliki ilmunya dalam melaksanakan segala jenis amalan yang bersifat ibadah seperi sholat, puasa, haji ini. Tidak bisa kita beramal tanpa ilmu. Ditulisan2 saya sebenernya tidak menggiring pembaca untuk menjalankan sebagaimana apa yg saya lakukan karena ada juga beberapa perbandingan yang silahkan para pembaca yang memutuskan. Untuk itu saran saya kepada semua calon jamaah haji persiapkanlah Ilmu manasik haji sebaik mungkin dari ulama-ulama yang benar dan bagusnya lagi secara langsung tidak belajar taqlik melalui internet. Salam

leorabusanamoslem said...

Saya sekarang lagi di makkah, saya telah membaca semua artikel dan respon saudara2 seiman. Ada satu pertanyaan bodoh dari saya, pada hari tarwiyah pagi dikala berkumpul di makkah, sebelum berangkat ke mina pada tgl 8 dzulhijah, apa sebelumnya sudah ke miqot?
Maafkan pertanyaan saya. Mohon penjelasan, kapan ke miqotnya.
Saya sudah melakukan ihrom wajib yang niatnya di bir ali. Terimakasih responnya

leorabusanamoslem said...

Saya sekarang lagi di makkah, saya telah membaca semua artikel dan respon saudara2 seiman. Ada satu pertanyaan bodoh dari saya, pada hari tarwiyah pagi dikala berkumpul di makkah, sebelum berangkat ke mina pada tgl 8 dzulhijah, apa sebelumnya sudah ke miqot?
Maafkan pertanyaan saya. Mohon penjelasan, kapan ke miqotnya.
Saya sudah melakukan ihrom wajib yang niatnya di bir ali. Terimakasih responnya

Abu Syafwan said...

@leorabusanamuslin, Subhanallah semoga Alla memberi kemudahan dalam menunaikan ibadah yang mulia ini. Miqat untuk haji adalah tempat mukim kita di mekkah dalam hal ini maktab yang ditempati. Jadi setelah mandi, memakai wewangian, berpakaian ihram selanjutnya melafazkan niat ihram untuk haji. maka setalah ini berlakulah larangan ihram. Barakallahu.