Sunday, April 29, 2018

Pengalaman Pelunasan BPIH Tahun 2018






Pengalaman ini sepertinya perlu saya share bukan untuk menunjukkan berangkat haji sudah lebih dari satu kali, tetapi ada beberapa hal yang mungkin saja para pembaca calon haji nanti mengalami kendala yang sama.

Saya mendaftar haji dari kota Palembang saat berdinas disana, namun sebelum panggilan berangkat haji ini keluar saya sudah dimutasikan kerja ke Bandung. Tahun 2017 saya memantau perkembangan waktu keberangkatan dengan melakukan cek disitus resminya kemenag, dan Alhamdulillah nomor porsi haji saya beserta istri masuk dalam tahun pemberangkatan 2018M. 
Awal tahun 2018 saya terus memantau perkembangan informasi keberangkatan khususnya kapan dimulainya pembayaran BPIH tahun 2018. Saya sudah menghubungi langsung bank tempat saya membuka rekening setoran haji pertama kali yaitu Bank Muamalat Palembang, termasuk mengganti nomor kontak dan meminta Bank tersebut memberikan informasi jika ada hal yg berkaitan dengan pelunasan haji. Informasi dari pihak bank, jika ada pelunasan saya akan dihubungi.

Tanggal 21 April 2018 ada undangan walimah sahabat istri di Palembang, dan kami memutuskan untuk hadir, tiket pesawat pp dibeli berangkat tgl 20 April 2018 dan kembali tgl 23 April 2018. Malam sebelum berangkat ke Palembang saya iseng cek situs kemenag, kaget juga lihat informasi bahwa pelunasan sudah dilakukan 5 hari yang lalu dan ;

  • Tahap pertama pelunasan BPIH tahun 2018 ini dari tanggal 16 April 2018 sampai tanggal 4 Mei 2018. 
  • Tahap kedua dari tanggal 16 - 25 Mei 2018
Kemudian saya coba Call Customer Servicenya Bank Muamalat menayakan persyaratan yang diperlukan untuk pelunasan BPIH ini, dari pihak bank menginfokan antara lain :

  1. Photo Copy KTP  ( 3 lembar)
  2. SPPH asli + Photo Copy ( 2 lbr)
  3. Setoran Awal asli + Photo Copy ( 2 lbr)
  4. Photo 3x4 ( 15 lbr), 4x6 ( 10 lbr)
  5. Meterai 6000
  6. Surat Istito'at ( surat keterangan kesehatan )
  7. Map warna merah ( perempuan), warna Hijau ( laki-laki)
Yang membingungkan saya adalah persyaratan poin 6, surat istito'at apa pula ini karena diperjalanan haji sebelumnya tidak ada persyaratan ini. Saya diberi penjelasan dari pihak bank bahwa ini persyaratan yg baru diterapkan untuk pemberangkatan tahun 2018, SISKOHAT tidak bisa melakukan pembayaran sebelum ada input hasil pemeriksaan kesehatan dari puskesmas yang ditunjuk untuk melakukan pemeriksaan kesehatan jamaah haji.

Kemudian saya mencari tahu dimana puskesmas  yg bisa saya datangi dan persyaratan apa yang diperlukan. Saya coba hunting melului google, kemudian saya dapati informasi dari salah satu web KBIH di Palembang, persyaratan yang dibawa antara lain :
  1. Photo Copy SPPH
  2. Photo Copy BPIH
  3. Pas Photo 4x6 ( 4 lbr), 2x3 ( 4 lbr)
  4. Hasil photo rontgent thorax terbaru
  5. Hasil EKG terbaru
  6. Membayar biaya pemeriksaan di puskesmas Rp 177.500,-
  7. Photo Copy KTP
Jenis pemeriksaannya :

1. Pemeriksaan laboratorium ( darah dan urin)
2. Pemeriksaan phisik dan kebugaran

Esoknya saya call kantor depag kota Palembang, menanyakan dimana puskesmas rujukan saya ( oh iya perlu saya infokan kalau saya tidak ikut KBIH ), dan mendapat info di puskesmas dempo Palembang.

Tanggal 21 April 2018 saya mendarat di Palembang, dan langsung mencari kantor maskapai penerbangan untuk mengajukan reschedule pulang ke Bandung, Alhamdulillah dapat jadwal tanggal 25 April 2018 dengan harapan keperluan pelunasan dan permohonan mutasi embarkasi ke Bandung bisa selesai sampai hari Rabu. Bismillah saja, mengharap kemudahan dari Allah.

Hari senin tanggal 23 April 2018, pagi-pagi sekali saya dan istri sudah bergerak menuju puskesmas dempo, pegawai disana belum mulai bekerja bahkan kami harus menunggu selesai apel pagi. 30 menit dari waktu apel kami menanyakan pelaksanaan test kesehatan haji ini, ternyata info dari pihak puskesmas, kami harus ke puskesmas kampus.
Tanpa menunggu lama bergeraklah ke puskesmas kampus, walau sempat muter-muter mencari tempatnya karena belum pernah ke puskesmas ini.
Kami diterima oleh petugas disana dengan rasa heran, loh koq baru periksa pak sementara pemeriksaan kesehatan sudah selesai, karena pemeriksaan ini sudah dari beberapa nulan yang lalu. Kami jelaskanlah permasalahan yang ada karen tidak dapatnya pemberitahuan dari depag maupun dari pihak bank, Alhamdulillah para petugas disini sangat membantu banget dan berusaha mencari kemudahan. Setelah cek persyaratan, mengisi form pendaftaran lalu membayar biaya pemeriksaan langsung dipanggil untuk cek laboratorium. Hasilnya karena menunggu 2 jam, kami ditawarkan untuk cek rontgent dan EKG. Kami minta rekomendasi tempat pemeriksaan yang murah dan bisa cepat hasilnya, disarankan ke laboratorium milik pemerintah yang ada di depan Kodam Jl Sudirman.
Dari puskesmas nanti diberi surat pengantar ke laboratorium yang kita tuju (laboratorium lain boleh kita gunakan untuk mendapatkan rekam medic)

Dengan mengendarai sepeda motor (mengingat kemacetan lalu lintas di Palembang yg begitu parah akibta adanya project pembangunan LRT) menuju ke laboratorium tsb, ambil nomor antrian dan kurang dari 5 menit masuk ruang pemeriksaan. Ketika kami tanyakan hasilnya ternyata harus menunggu esok hari...terpaksa kami minta bantuan agar bisa dipercepat mengingat waktu kami sangat terbatas, diberilah nomor kontak pribadi petugas lab tersebut yang intinya akan maksimal membantu mempercepat dan kalau sdh ada hasil akan menghubungi kami segera.

Sore hari kami hubungi laboratorium tsb ternyata belum ada hasil dan dibilang petugas jam 1 siang esok hari. Kalau jam 1 bahaya dengan waktu yg ada mengingat puskesmas tutup kantor jam 2 siang bagaiaman dengan proses pemeriksaan tahap ke dua nya gak akan cukup waktu, kami hubungi petugas yang tadi pagi dan dia janji esok pagi diusahakan paling tidak jam 9 pagi.
Alhamdulillah Tanggal 25 pagi dapat info hasil rontgent dan ekg sudah bisa diambil.

Ketika mengambil hasil ini, kami mau memberikan sekedar uang ucapan terimakasih kepada petugas ini, ternyata beliau tidak mau menerimanya cuma minta di do'akan saja. MasyaAllah, jazakallahu khair atas bantuannya.

Setelah mendapatkan hasil ini, kami menuju puskesmas kampus lagi dan menyerahkan hasil lalu lanjut ke pemeriksaan tahap-2. Dokter yg periksa bilang, harusnya tahap-2 itu seminggu atau dua minggu kemudian, pak dokter sambil senyum-senyum melihat kondisi yang kami alami.
Pemeriksaan tetap dilakukan yang diberi keringanan itu adalah waktu pelaksanaannya saja yg dipercepat. Pemeriksaan dimulai dari pertanyaan riwayat sakit, keluhan yang ada, lalu cek tinggi badan, berat badan, lingkar pinggang, berat massa tubuh, lingkar panggul. Untuk suntik meningitis kami tidak lakukan lagi karena kartu suntik meningitis kami masih berlaku ( eks umroh tahun 2017). Kalau mau suntik meningitis, GRATIS tanpa biaya tambahan lagi.

Selesai semua test keehatan, kemi menunggu hasilnya diinput di SISKOHAT lalu mengambil surat hasil nya di kantor kesehatan kotamadya yang ada di Jalan Merdeka Palembang. Ternyata hasilnya tidak bisa hari itu harus menunggu ditandatangani kepala dinas. Sekali lagi kami jelaskan kendala waktu yang kami alami dan kondisi kami yang dari luar kota, Alhamdulillah di dinas kesehatan kotamadya palembang memahami dan berusaha membantu, mereka telpon ke pihak puskesmas untuk segera menginput ke siskohat dan mengirimkan phisiknya segera ke kantor dinkes. Kami dijanjikan esok pagi hasilnya untuk dibawa ke Bank sebagai syarat pelunasan BPIH.

Tanggal 24 pagi buru-buru ke dinkes untuk ambil hasil dan setelah dapat langsung menuju bank muamalat di jl kapten a. rivai. Qadarallahu, siskohatnya lagi error pelunasan tidak dapat dilakukan. sambil menunggu petugas CS memeriksa persyaratan. Jam 11 an siskohat bisa di akes, pelunasan BPIH atas nama saya berhasil, tetapi siskohatnya error lagi.......lama ditunggu, makan siang, sholat Dzuhur dulu siskohat masih error. Saya contack kantor depag yg di Plaju menanyakan jam berapa kantor tutup, kantor tutup jam 4 sore saya ditunggu jam 3 sore untuk bisa melakukan penyerahan berkas serta pengajuan mutasi embarkasi.

Jam 2:30 siskohat baru bisa on lagi, Alhamdulillah berkas istri saya bisa keluar. setelah itu siskohat error lagi. Mas di Teler Bank Muamalat nanya apakah di depag ada yang bantu ? saya jawab tidak ada. Lalu dia menawarkan bantuan, di depag itu ada mertuanya. Di telponlah mertua si mas dan saya dititipkan ke nama seseorang. Alhamdulillah begitu banyak orang baik yang membantu kendala yang saya hadapi. Berkas yang harusnya dibawa pihak bank ke depag, atas permintaan depag bisa kami bawa sendiri agar mempercepat proses di depagnya.
Perjalanan menuju kantor depag, bisa ditempuh dalam 30 menit. Jam 3 pas kami sudah menemui petugas yang tadi direkomendasikan. Petugas di depag cukup cekatan membantu pemberkasan.

Setelah berkas pelunasan BPIH di cek, kemudian berkas permohonan mutasi/pindah embarkasi juga di cek kelengkapannya, kami diminta menunggu hasilnya. nanti dari depag ada surat untuk usulan ke kanwil depag provinsi, nanti dari kanwil ini ada surat untuk diserahkan ke kanwil depag Jawa Barat. Masih menunggu proses perjalanan surat persetujuan permohonan pindah embarkasi.

To be continued ke pengalaman Mutas/Pindah Embarkasi ya...ikuti terus untuk memudahkan masalaha serupa jika anda mengalami hal yang sama

Monday, March 5, 2018

Tips Bisa Ikut pengantaran dan penguburan jenazah di kuburan Baqi' Madinah




Bagi jamaah umrah yang ingin menyaksikan dan mengantar jenazah ke kuburan Baqi', berikut tipsnya:
  1. Sholat berjamaah di bagian depan, sebelah kiri pelataran masjid, dekat pintu keluar raudhah.
  2. Usai sholat berjamaah, bergegas maju ke depan, keluar dari barisan awal.
  3. Ikut sholat jenazah bersama Imam.
  4. Selesai salam sholat jenazah, segera menuju ke pintu depan pas mihrab. Jenazah di keluarkan dari pintu tersebut.
  5. Selesai salam sholat jenazah, bisa maju beberapa meter ke depan, menunggu jenazah di angkat.
  6. Segera ikuti jenazah, atau ikut angkat keranda (biasanya berebut dengan banyak orang).
  7. Ikut masuk ke kuburan baqi' bersama dengan rombongan pengantar jenazah.
  8. Jangan sampai telat ikut rombongan, karena pintu gerbang kuburan langsung ditutup setelah jenazah masuk.

Keterangan tambahan:
  • a) Sholat jenazah hampir dilakukan setiap selesai sholat wajib.
  • b) Perhatikan adab dan tuntunan syar'i ziarah kubur.


Sumber : FB Budi Marta Saudin 
*Foto diambil hari Selasa, 27 Februari 2018.

Panduan Manasik Haji

Berbagai buku-buku Tentang Panduan Manasik




Bagi anda yang akan menunaikan ibadah haji tahun ini, ada dua hal pokok yang perlu anda persiapkan :1. Ikhlas berniat karena Alloh, dalam surat Albayyinah:5





Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.[1] Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

2. Ittiba. Mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah SAW.Diinul Islam agama yang kita anut sudah sangat lengkap dan sempurna. Maka cukuplah Rasulullah sebagai contoh dan petunjuk yang kita ikuti. Dalam masalah Addin kita diharamkan mengadakan sesuatu yang baru. Rasulullah bersabda :Artinya : Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bidah, dan setiap bidah adalah sesat. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].
Untuk itulah pengetahuan tatacara pelaksanaan ibadah haji harus anda ketahui dengan benar, sehingga anda dapat menjalankan rukun,wajib dan sunnah haji dengan sempurna sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Karena saat ini banyak sekali versi-versi pelaksanaannya yang dapat anda saksikan ditanah suci. Jika anda tidak mempunyai pemahaman yang benar,maka sangat disayangkan kesempatan yang mungkin hanya sekali dalam hidup anda akan sia-sia, dan penyesalan yg anda ratapi ketika sudah kembali ke tanah air.Anda dapat mempelajari dari berbagai sumber buku yang dibuat oleh ulama-ulama yang dapat dipertanggung jawabkan. Sehingga pilihlah rujukan yang memang ditulis oleh ulama-ulama sunnah, mengingat saat ini banyak sekali beredar buku-buku, VCD yang membahas tentang Haji dan Umrah padahal isinya banyak yang menyimpang dari manasik hajinya Rasulullah Sallalahu alaihi wassalam. Ada juga sebagian buku yang hanya mengedepankan ulasan-ulasan Sufi dengan bercerita tentang segala hal-hal aneh yang seolah-olah merupakan mukjizat di tanah suci, semua isi buku kurang menekankan dalil-dalil yang dapat dipertanggung jawabkan.




Referensi Panduan Manasik




Mengikuti KBIH bukanlah suatu kewajiban, yang bahkan seringkali kita temui justru KBIH tidak membimbing jamaah haji dengan benar, unsur bisnis lebih dikedepankan oleh yayasan-yayasan KBIH. Anda sudah kehilangan jutaan rupiah untuk biaya manasik haji. Padahal manasik haji yang diselenggarakan oleh departemen agama menurut saya justru lebih bagus, walaupun waktunya hanya 10 hari. Pengalaman saya waktu itu justru saya melihat yang diberikan dalam manasik haji depag sudah memadai.
Saya sudah menghimpun beberapa catatan manasik haji dari beberapa sumber buku karya ulama terkenal dan juga beberapa catatan manasik haji tahun 1423H dan 1427H, dan jika anda berminat membacanya anda dapat mendownloadnya (catatan tersebut bukan untuk dikomersialkan). Saya sendiri sudah mencetak catatan tersebut dalam bentuk buku saku yang saya beri judul "HajjaturRasul" (telah direvisi tanggal 19 Nov 2009)





Dengan mempertimbangkan banyaknya permintaan ke email ku yang meminta Ringkasan Buku Hajjaturasul, aku telah postingkan tulisan tentang rangkuman manasik haji (telah direvisi tanggal 19 Nov 2009) dengan contoh do'a dengan bahasa Arab dan dilengkapi dengan tulisan bahasa Indonesia serta terjemahannya. Anda dapat mendownloadnya dengan mengklik icon di bawah ini.

Semoga dapat membantu anda dalam memahami manasik haji.

Sebagai informasi tambahan bagi Anda, bisa juga mengunjungi situs yang memberikan penjelasan tentang Haji dan Umrah yang dileuarkan oleh pemerintah Arab Saudi, isinya bagus dan cukup lengkap (dilengkapi juga dengan visualisasi). Jika berminat silahkan kunjungi Link berikut ini.
Jika Anda ingin menambah ilmu tentang Haji dan Umrah Anda bisa membaca tulisan ulama berikut :
1. Haji dan Umrah seperti Rasulullah, karya Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albany
2. Manasik Haji dan Umrah, karya syaikh Muhammad Shalih Al 'Utsaimin. Untuk tanyangan dalam bentuk video dapat Anda kunjungi postingan saya disini.

Buku Haji & Umrah Seperti Rasulullah


Oleh Syekh Nashiruddin al-Albani
Banyak yang menanyakan referensi buku manasik haji yang bisa menjadi pegangan bagi calon jamaah haji ke email saya, hal ini dikarenakan begitu banyaknya ulasan-ulasan yang tersebar di media internet, buku-buku cetak, dan juga pemahaman-pemahaman yang disampaikan oleh pembimbing ibadah haji melalui KBIH, sehingga meneyebabkan kebingungan bagi calon jamaah haji yang mana yang harus diikuti. Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya coba memberikan solusi melalui salah satu buku yang ditulis oleh ulama salaf.Buku ini menjadi salah satu rujukan saya, yang pada waktu itu saya beli seharga Rp 20.000,-
Berikut ulasan dari buku karya Syekh Nashiruddin al-albani dengan judul Haji & Umrah Seperti Rasulullah. (harga saat ini berkisaran antara Rp 25.000 sampai Rp 30.000)
Satu lagi karya ulama pakar hadits hadir di hadapan kita. Kali ini ia menyusun secara lengkap dan detail tata cara manasik haji sebagai mana yang dilakukan Rasulullah saw., melalui periwayatan sahabat Jabir r.a.. Sebagai seorang ulama hadits yang disegani, penulis mengetahui bahwa Jabir memiliki keistimewaan dalam meriwayatkan perjalanan Rasulullah saw. ketika menunaikan Haji Wada'. Pernyataan ini didukung komentar beberapa ulama besar, di antaranya Imam Nawawi, al-Qadhi bin lyadh, Ibnu Katsir, dan al-Hafizh adz-Dzahabi. "Dialah salah seorang sahabat yang terbaik periwayatannya tentang Haji Wada','' kata Imam Nawawi. Buku ini disusun bukan hanya untuk para calon haji dan umrah. Siapa pun Anda, sangatlah perlu mengetahui cara Rasulullah saw. melaksanakan ibadah ini.
Berbagai referensi yang mudah Anda temui saat ini

Jika Anda belum berminat untuk membeli buku ini, saya akan bantu Anda untuk membacanya melalui media elektronik dalam bentuk softcopy (e-book) yang dapat Anda Unduh dengan meng klik icon buku di gambar atas atau Unduh disini .

Sunday, March 4, 2018

Wanita Haid ketika Umrah



Bolehkah wanita haid melakukan umrah? Lalu bagaimana jk sdh menunggu suci, ternyata tidak suci sampai mndekati mau pulang. Apa boleh thawaf dalam keadaan haid?
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Ihram bagi wanita haid, baik utuk haji maupun umrah hukumnya sah dan dibolehkan. Yang perlu dilakukan, ketika wanita haid sampai di miqat, hendaknya mandi dan istitsfar, kemudian memulai ihram. Yang dimaksud istitsfar adalah menggunakan pembalut lebih rapat, sehingga dipastikan tidak ada darah yang merembet keluar ke celana.
Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma menceritakan kejadian yang dialami Asma’ bintu Umais, istrinya Abu Bakr as-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma, pada saat rombongan haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Dzulhulaifah (Bir Ali).
Jabir menceritakan,
حَتَّى أَتَيْنَا ذَا الْحُلَيْفَةِ فَوَلَدَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ عُمَيْسٍ مُحَمَّدَ بْنَ أَبِى بَكْرٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَيْفَ أَصْنَعُ قَالَ: اغْتَسِلِى وَاسْتَثْفِرِى بِثَوْبٍ وَأَحْرِمِى
Ketika kami sampai di Dzulhulaifah, Asma bintu Umais melahirkan Muhammad bin Abu Bakr. Kemudian beliau menyuruh orang untuk bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apa yang harus saya lakukan?’ jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Mandilah dan lakukanlah istitsfar dengan kain, dan mulailah ihram.” (HR. Muslim 3009, Nasai 293 dan yang lainnya).
Meskipun hadis Asma’ bintu Umais terkait orang nifas, namun ini berlaku untuk wanita haid, karena hukumnya sama dengan sepakat ulama.
Dalil lain bolehnya ihram dalam kondisi haid adalah peristiwa yang dialami A’isyah radhiyallahu ‘anha. Beliau menceritakan perjalanan hajinya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Kami berangkat dengan niat haji. Ketika sampai di daerah Saraf, aku mengalami haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku sedang nangis.”
“Kamu kenapa? Apa kamu haid?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Benar.” Jawab A’isyah.
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ ، فَاقْضِى مَا يَقْضِى الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ
Haid adalah kondisi yang Allah takdirkan untuk putri Adam. Lakukan seperti yang dilakukan jamaah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di ka’bah. (HR. Bukhari 294 & Muslim 2976).
Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan,
فَفَعَلَتْ وَوَقَفَتِ الْمَوَاقِفَ حَتَّى إِذَا طَهَرَتْ طَافَتْ بِالْكَعْبَةِ وَالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ
A’isyah pun melakukannya, beliau melaksanakan semua aktivitas orang haji. Hingga ketika beliau telah suci, bliau thawaf di ka’bah dan sa’i antara shafa dan marwah. (HR. Muslim 2996).
Ini menunjukkan bahwa wanita yang mengalami haid ketika umrah dan belum melakukan thawaf, maka dia boleh melakukan kegiatan apapun, selain thawaf, sa’i dan masuk masjidil haram. Dia menunggu sampai suci dan mandi haid. Setelah itu, baru dia thawaf dan sa’i.
Karena thawaf tidak boleh dilakukan dalam kondisi hadats, menurut pendapat jumhur ulama.
Ibnu Qudamah menyebutkan,
الطهارة من الحدث والنجاسة والستارة شرائط لصحة الطواف في المشهور عن أحمد وهو قول مالك و الشافعي
Suci dari hadats, dan najis serta memakai pakaian adalah syarat sah thawaf menurut pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad. Dan ini pendapat Malik dan as-Syafi’i. (al-Mughni, 3/397)
Jika ternyata haid tidak berhenti sampai batas akhir dia di mekah, apa yang harus dilakukan?
Para ulama memberikan rincian,
[1] Jika memungkinkan baginya untuk kembali ke Mekah setelah suci, maka dia tetap ihram, lalu pulang. Dan setelah suci, dia kembali lagi ke Mekah untuk thawaf dan sa’i. Ini berlaku untuk mereka yang tinggal tidak jauh dari Mekah.
[2] Jika tidak memungkinkan baginya untuk kembali ke Mekah, seperti jamaah umrah Indonesia, maka dia bisa thawaf dan sa’i sebelum meninggalkan Mekah, meskipun dalam kondisi haid.
Alasannya,
Pertama, kaidah dalam islam, Allah perintahkan agar kita bertaqwa kepada-Nya semampunya,
Allah berfirman,
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. at-Taghabun: 16)
Kedua, tidak membebani hamba-Nya melebihi kemampuannya. Sehingga ada aturan yang melebihi kemampuan manusia, dia bisa terpaksa tidak sejalan dengannya. Allah berfirman,
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani jiwa melebihi kemampuannya.” (QS. al-Baqarah: 286).
Ketiga, bahwa semua syarat dan rukun dalam ibadah, tergantung pada kemampuan. Ketika ada yang tidak mampu dilakukan, maka dia melakukan penggantinya, jika ada syariat penggantinya (badal). Seperti tayamum sebagai pengganti wudhu. Dan jika tidak ada badalnya, maka gugur tanggung jawab itu.
Sementara suci dari haid adalah syarat sah thawaf. Sehingga ketika ini tidak bisa dihilangkan karena tidak berhenti, maka gugur tanggung jawab dia menunggu suci haid.
Ketika Ibnul Qoyim menjelaskan kaidah ini, beliau mengatakan,
ليس في هذا ما يخالف قواعد الشرع، بل يوافقها – كما تقدم -؛ إذ غايته سقوط الواجب، أو الشرط بالعجز عنه، ولا واجب في الشريعة مع عجز، ولا حرام مع ضرورة
Dalam kasus ini tidak ada yang menyalahi kaidah syariat. bahkan sejalan dengan kaidah syariat. Karena hakekat yang terjadi, gugurnya kewajiban atau gugurnya syarat ketika tidak mampu. Dan dalam syariat, tidak kewajiban yang tidak mampu dikerjakan dan tidak ada larangan melanggar yang haram dalam kondisi darurat. (I’lam al-Muwaqqi’in, 3/20)
Demikian, Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Saturday, March 3, 2018

CARA MUDAH MEMAHAMI FIQH UMROH

🕋    بسم الله الرحمن الرحيم


📋 KEUTAMAAN UMROH DAN HAJI

 Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

🌴 “Antara umroh sampai umroh berikutnya adalah penghapus dosa yang dilakukan antara keduanya, dan haji yang mabrur tidaklah ada balasannya kecuali surga.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

📋 KEUTAMAAN UMROH DI BULAN RAMADHAN
 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

🌴 “Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma]

📋 CARA MUDAH MEMAHAMI FIQH UMROH

Memahami fiqh umroh dalam waktu kurang dari 1/2 menit dalam 4 poin berikut:
1. Ihram dari miqot (Ihram termasuk rukun, melakukannya dari miqot termasuk kewajiban).
2. Thawaf sebanyak 7 putaran mengelilingi kakbah (termasuk rukun).
3. Sa’i sebanyak 7 putaran antara Shafa dan Marwa (termasuk rukun).
4. Memendekkan atau mencukur rambut (termasuk kewajiban).

Dengan melakukan 4 poin ini saja umroh sudah sah meskipun tanpa ditambahi dengan amalan-amalan lainnya. Akan tetapi untuk kesempurnaannya insya Allah akan kami jelaskan dalam rincian berikut.

📋 WAKTU MELAKUKAN UMROH
Waktu melakukan umroh adalah seluruh waktu dalam setahun.

📋 TEMPAT MEMULAI HAJI DAN UMROH
Tempat memulai Haji dan Umroh yang biasa disebut miqot (makani) adalah tempat-tempat yang diwajibkan untuk memulai melakukan ihram di situ, jika seorang yang berniat umroh atau haji melewati tempat tersebut tanpa melakukan ihram (yaitu berniat mulai melakukan amalan-amalan umroh atau haji) dan tanpa melaksanakan kewajiban-kewajibannya maka wajib atasnya hadyu, berupa menyembelih seekor kambing dan membaginya kepada fakir miskin Mekkah, tanpa mengambil bagian darinya sedikitpun.

Adapun miqot-miqot itu ada lima:
1. Dzul Hulaifah (sekarang dinamakan Bi’r ‘Ali), miqot penduduk kota Madinah dan yang melalui rute mereka).
2. Al-Juhfah, miqot penduduk Saudi Arabia bagian utara dan negara-negara Afrika Utara dan Barat, negeri Syam (Lebanon, Yordania, Syiria, Palestina) dan yang melewati rute mereka.
3. Qarnul Manazil (sekarang dinamakan As-Sail) dan Wadi Muhrim (bagian atas Qarnul Manazil), miqot penduduk Najed, selatan Saudi di seputar pegunungan Sarat, negara-negara Teluk, Irak, Iran dan yang melewati rute mereka.
4. Yalamlam (sekarang dinamakan As-Sa’diyyah), miqot penduduk negara Yaman, Indonesia, Malaysia, negara-negara sekitarnya dan yang melewati rute mereka.
5. Dzatu ‘Irqin (sekarang dinamakan Adh-Dharibah), miqot penduduk negeri Irak (Kufah dan Bashrah) dan yang melewati rute mereka.

Dan bagi orang-orang yang tinggal di Mekkah atau yang tinggal di tempat-tempat yang terletak setelah miqot-miqot di atas, boleh bagi mereka berihram untuk haji (baik tamattu’, qiron maupun ifrod) dari rumah masing-masing tanpa harus pergi ke miqot lagi. Adapun bagi penduduk Mekkah yang ingin melakukan umroh, mereka harus keluar ke daerah halal terdekat, seperti Tan’im dan yang lainnya, lalu berihram dari sana.


📋 URUTAN AMALAN-AMALAN UMROH

 PERTAMA: IHRAM DARI MIQOT
Ihram adalah berniat memulai pelaksanaan ibadah umroh atau haji. Tata caranya sebagai berikut:
 Mendatangi miqot.
 Memotong kuku, memendekkan kumis, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan. Hal ini bukan termasuk amalan ihram, hanya saja apabila seseorang mau melakukannya ketika ihram maka dilarang, oleh karena itu hendaklah ia melakukannya sebelum ihram, kecuali jika ia berniat menyembelih qurban maka tidak boleh melakukannya jika telah masuk tanggal 1 Dzulhijjah sampai ia menyembelih.
 Tidak dibenarkan mencukur atau memotong jenggot.
 Mandi seperti mandi janabat.
 Mandi ini juga berlaku bagi wanita haid dan nifas, karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan Asma’ binti Umais radhiyallahu’anha untuk mandi ketika ia melahirkan di Dzul Hulaifah, sebagaimana dalam hadits Jabir yg masyhur (Hadits tsb sekaligus sebagai dalil sahnya ihram wanita haid dan nifas, serta boleh melakukan semua amalan haji dan umroh kecuali tawaf, harus menunggu suci terlebih dahulu kemudian tawaf).
 Menggunakan wewangian pada tubuh (pada bagian tubuh yang tidak terkena pakaian ihram) bila memungkinkan.
 Pakaian ihram tidak boleh dikenakan wewangian.
 Bagi yang miqotnya dilewati dengan kendaraan yang tidak mungkin berhenti seperti pesawat maka mandinya bisa dilakukan sejak dari rumah atau sebelum naik pesawat maupun setelah berada di pesawat.
 Mengenakan pakaian ihram yang terdiri dari dua helai (yang afdhal berwana putih), yaitu sehelai disarungkan pada tubuh bagian bawah dan sehelai lagi diselempangkan pada tubuh bagian atas dengan menutup seluruh tubuh bagian atas termasuk kedua bahu.
 Diantara hikmah mengenakan pakaian ihram tanpa dibedakan antara si kaya dan si miskin, atasan dan bawahan, pemerintah dan rakyatnya adalah untuk mengingatkan kepada kain kafan, bahwa setiap manusia hanya akan membawa kain kafannya sampai ke kuburan.
 Bagi yang miqotnya dilewati dengan kendaraan yang tidak mungkin berhenti seperti pesawat, maka pakaian ihramnya bisa dikenakan menjelang naik pesawat terbang atau setelah berada di atas pesawat terbang, meskipun jeda waktu yang agak lama dengan miqatnya agar ketika melewati miqat dalam kondisi telah mengenakan pakaian ihram.
 Adapun pakaian ihram wanita adalah pakaian yang menutup seluruh auratnya yang sesuai dengan batasan-batasan syar’i.
 Wanita yang ihram tidak boleh menggunakan cadar dan kaos tangan, dan jika ada laki-laki asing hendaklah ia menutup auratnya tsb dengan kerudungnya.
 Setelah mengenakan pakaian ihrom, lakukan sholat dua raka’at dengan niat sholat sunnah wudhu’ atau sholat wajib jika bertepatan dengannya, dan yang shahih tidak ada sholat khusus untuk ihram.
 Ketika masih berada di miqot, naik ke kendaraan lalu mulai berniat ihram untuk melakukan umrah dengan mengucapkan:

لَبَّيْكَ عُمْرَةً
"Labbaika 'umrotan"

Artinya: “Kusambut panggilan-Mu untuk melakukan umroh.” [HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

Lalu membaca talbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
"Labbaika Allaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, laa syariika laka"

Artinya: “Kusambut panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu]

 Jika khawatir tidak bisa menyempurnakan seluruh rangkaian ibadah haji atau umroh hendaklah membaca ucapan pensyaratan niat:

اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي
"Allaahumma mahilliy haitsu habastaniy"

Artinya: "Ya Allah tempat berakhir amalanku di mana Engkau menahanku." [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

 Faidah ucapan pensyaratan niat adalah jika seseorang terhalangi dari menyempurnakan haji atau umrohnya, maka tidak ada fidyah dan qodho’ atasnya. Ini bermanfaat terutama bagi wanita haid yang melakukan umroh dan khawatir ditinggal rombongannya jika harus menunggu sampai suci.
 Boleh bagi wanita untuk minum obat penunda haid selama tidak membahayakannya.
 Berangkat ke Mekkah.
 Memperbanyak ucapan talbiyah ini dengan mengeraskan suara sepanjang perjalanan ke Mekkah.
 Berhenti mengucapkan talbiyah ketika menjelang thawaf (adapun ketika haji, membaca talbiyah sampai sebelum melempar jamrah ‘aqobah pada tg. 10 Dzulhijjah).
 Mengucapkan talbiyah secara berjama’ah dengan membentuk sebuah koor termasuk perbuatan bid’ah.
 Boleh memakai sandal, sepatu yang tidak menutupi mata kaki, cincin, kacamata, walkman, jam tangan, sabuk, dan tas yang digunakan untuk menyimpan uang dan barang-barang berharga lainnya.
 Boleh mencuci pakaian ihram atau mengganti dengan pakaian ihram yang lain.
 Sebelum masuk Mekkah, jika memungkinkan untuk mandi kembali.
 Hendaklah senantiasa menjalankan printah Allah Ta’ala dan menjauhi larangan-Nya seperti perbuatan syirik, kefasikan, kata-kata keji dan kotor, berdebat untuk membela kebatilan, dan lain-lain.


🚧 LARANGAN-LARANGAN IHRAM
Larangan-larangan ihram ada 9, yaitu:
1. Memotong rambut (seluruh badan).
2. Memotong kuku.
3. Menggunakan wewangian (adapun menggunakan wewangian sebelumnya dilakukan sebelum ihram).
4. Mengenakan penutup kepala yang menempel (yang tidak menempel seperti payung atau berteduh di bawah atap tidak mengapa).
5. Mengenakan pakaian yang membentuk tubuh (yang diistilahkan oleh sebagian fuqaha dengan pakaian berjahit).
6. Membunuh hewan tanah haram, bahkan diharamkan sekedar menakutinya atau membuatnya lari. Termasuk dalam hal ini mencabut atau merusak tumbuhan yang ditumbuhkan Allah Ta’ala (bukan yang ditanam manusia) di tanah haram.
7. Akad nikah dan melamar atau menikahkan dan melamar untuk orang lain.
8. Berhubungan suami istri.
9. Bercumbu antara suami istri, baik dengan perkataan maupun perbuatan.

🚧 HUKUMAN-HUKUMAN BAGI YANG MELANGGAR LARANGAN IHRAM
Hukuman bagi yang melanggar 9 larangan di atas terbagi 5 bentuk:
1. Melakukan pelanggaran nomor 1-5 maka hukumannya adalah membayar fidyah berupa menyembelih seekor kambing atau memberi makan 6 orang miskin (setiap orang dapat 1/2 sho') atau berpuasa 3 hari. Boleh memilih.
2. Melakukan pelanggaran nomor 6 maka hukumannya hendaklah menyembelih yang semisalnya dari hewan yang biasa digunakan untuk zakat lalu bersedekah dengannya dan tidak boleh makan darinya sedikit pun. Atau menakarnya dengan makanan dan membaginya kepada fakir miskin, setiap orang mendapat 1/2 sho'. Atau berpuasa selama sejumlah orang-orang miskin tersebut. Jika yang melanggar tidak menemukan hewan yang semisalnya barulah ia diberi pilihan apakah memberi makan ataukah puasa.
3. Melakukan pelanggaran nomor 7 tidak ada fidyah namun berdosa jika dilakukan bukan karena lupa atau tidak tahu dan nikahnya dihukumi sebagai nikah syubhat, harus diulang setelah ihram. Dan hendaklah bertaubat kepada Allah Ta’ala.
4. Melakukan pelanggaran nomor 8 (berhubungan suami sitri), apabila sebelum tahallul awwal (pada haji) maka hajinya tidak sah dan wajib membayar fidyah dengan menyembelih seekor unta dan dibagikan bagi fakir miskin di haram dan wajib mengqodho' haji tersebut di tahun depan. Apabila dilakukan setelah tahallul awwal maka hajinya sah berdasarkan ijma' dan baginya fidyah berupa menyembelih seekor kambing.
Adapun dalam umroh, jika pelanggarannya dilakukan sebelum thawaf atau sa'yu maka batal umrohnya, hendaklah melakukan umroh lagi sebagai ganti, yaitu keluar lagi ke miqot dan wajib baginya fidyah menyembelih seekor kambing. Jika dilakukan pada umroh setelah thawaf dan sa'yu (yakni sebelum memendekkan atau mencukur rambut) maka umrohnya sah dan wajib baginya fidyah.
5. Melakukan pelanggaran nomor 9, jika seorang bercumbu dengan istrinya di selain kemaluannya, walaupun sampai mengeluarkan mani, maka hajinya tidak batal, hendaklah dia menyembelih unta jika hal itu dilakukan sebelum tahallul awal. Jika dilakukan setelahnya, hendaklah menyembelih kambing. Bagi wanita sama hukumanya dengan laki-laki kecuali jika ia dipaksa untuk melakukannya.
Hukuman-hukuman di atas berlaku bagi orang yang sengaja melakukannya baik karena butuh atau tidak. Adapun yang tidak tahu hukumnya atau karena lupa maka tidak ada hukuman baginya, dan hajinya tetap sah.

 KEDUA: THAWAF SEBANYAK 7 PUTARAN MENGELILINGI KAKBAH
 Thawaf adalah rukun umroh yang kedua.
 Thawaf adalah ibadah khusus mengitari kakbah sebanyak 7 kali, adapun thawaf dengan mengitari selain kakbah adalah mengada-ada dalam agama.
 Disunnahkan masuk Makkah di waktu siang setelah mandi, karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melakukannya, beliau menginap di Dzi Tuwa, sholat shubuh dan mandi padanya, sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma dalam Ash-Shahihain.
 Tiba di Masjidil Haram Makkah, pastikan telah bersuci dari najis dan hadats.
 Disunnahkan untuk beristirahat sejenak sebelum memulai thawaf.
 Masuk dengan kaki kanan dan membaca doa masuk masjid:

أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم
"A'udzu billaahil 'azhimi wa biwajhihil kariimi wa sulthoonihil qodiimi minasy syaithoonir rojiimi"
Artinya: "Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung, dengan wajah-Nya yang maha mulia dan kekuaasaan-Nya yang maha terdahulu, dari setan yang terkutuk." [HR. Abu Daud dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu’anhuma, Shahih Sunan Abi Daud: 485]

Kemudian membaca:
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
"Allaahummaftah liy abwaaba rohmatik"
Artinya: "Ya Allah bukakanlah pintu-pintu rahmat-mu." [HR. Muslim dari Abu Usaid radhiyallahu’anhu]
 Keluar masjid membaca:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِك
"Allaahumma inniy as-aluka min fadhlik"
Artinya: "Ya Allah aku memohon kepada-Mu anugerah dari-Mu." [HR. Muslim dari Abu Usaid radhiyallahu’anhu]
Dan bershalawat kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, lalu membaca,
اللَّهُمَّ اعْصِمْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
"Allaahuma'shimniy minasy syaithoonir rohim"
Artinya: "Ya Allah aku memohon perlindungan kepada-Mu dari setan yang terkutuk." [HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahih Ibnu Majah: 627]
 Lafaz-lafaz do’a di atas berlaku umum di seluruh masjid. Tidak ada do’a khusus untuk masjidil Haram, baik ketika haji dan umroh maupun tidak.
 Melakukan idhthiba'. Caranya, selempangkan pakaian atas ke bawah ketiak kanan dan membiarkan pundak kanan terbuka dan pundak kiri tetap tertutup.
 Idhtiba’ ini khusus bagi laki-laki dan khusus pada thawaf qudum dan thawaf umroh. Adapun bagi wanita dan selain pada thawaf qudum dan thawaf umroh tidak disyari’atkan.
 Segera menuju Hajar Aswad, menghadapnya, menyentuhnya dengan tangan kanan dan menciumnya tanpa ada suara ciuman.
 Jika tidak memungkinkan, hendaklah menyentuhnya dengan tangan kanan dan mencium tangan yang menyentuhnya.
 Jika tidak memungkinkan maka dengan tongkat dan sejenisnya lalu mencium tongkat tersebut.
 Jika tidak memungkinkan maka cukup berisyarat kepadanya.
 Jika seseorang bisa menciumnya maka hendaklah dia membaca, “Bismillahi Allahu Akbar” (Berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma dalam Sunan Al-Baihaqi).
 Jika berisyarat kepadanya hanya membaca, “Allahu Akbar” (Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma dalam Shahih Al-Bukhari) [Lihat At-Talkhis Al-Habir, 2/47]
 Lakukan thawaf sebanyak 7 putaran mengelilingi kakbah. Mulai dari Hajar Aswad dengan memposisikan kakbah di sebelah kiri, sambil mengucapkan bacaan di atas ketika memulai thawaf.
 Dari Hajar Aswad sampai ke Hajar Aswad lagi terhitung 1 putaran.
 Disunnahkan berlari-lari kecil dengan mendekatkan langkah-langkah (raml) pada tiga putaran pertama (hal ini disunnahkan pada thawaf umroh dan thawaf qudum pada haji) dan berjalan pada putaran keempat sampai ketujuh.
 Raml dan idhthiba' tidak disyari’atkan untuk wanita berdasarkan ijma’.
 Disyari’atkan sepanjang thawaf untuk memperbanyak dzikir dan doa, namun tidak ada dzikir dan doa khusus yang disunnahkan selain bacaan-bacaan yang telah kami sebutkan di atas.
 Tidak boleh mengeraskan suara ketika thawaf, termasuk ketika berdzikir dan berdo’a saat tawaf, agar tidsk mengganggu kaum muslimin.
 Tidak ada do’a khusus ketika thawaf, kecuali ketika berada di antara dua rukun, yaitu Rukun Yamani dan Hajar Aswad, disunnahkan membaca:
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan juga kebaikan di akhirat, serta jagalah kami dari adzab api neraka.” [HR. Ahmad dan Abu Daud]
 Disunnahkan setiap kali sejajar dengan Rukun Yamani untuk menyentuhnya tanpa dicium, sambil mengucapkan, “Bismillahi Allahu Akbar”. Jika tidak memungkinkan untuk menyentuhnya maka tidak disyari’atkan untuk berisyarat kepadanya dan tidak pula mencucapkan tasmiyyah dan takbir.
 Tidak menyentuh kakbah atau apapun selain hajar Aswad dan rukun Yamani, karena tidak ada dalilnya.
 Disunnahkan setiap kali sejajar dengan Hajar Aswad untuk melakukan sebagaimana ketika mulai pertama kali, sampai pun pada putaran terakhir.
 Tidak disyari’atkan untuk mengusapkan tangan ke badan setelah mengusap Hajar Aswad maupun Rukun Yamani.
 Bahkan tidak disyari’atkan untuk mengusap dan mencium selain Hajarul Aswad dan mengusap selain Rukun Yamani dan tidak pula ada bacaan tertentu ketika melewatinya.
 Menyentuh dan mencium Hajar Aswad dan menyentuh Rukun Yamani hanya dilakukan ketika thawaf saja, kecuali menyentuh Hajar Aswad juga disyari’atkan setelah selesai sholat dua raka’at thawaf di belakang maqom Ibrahim ‘alaihissalam. Selain itu tidak disyari’atkan.
 Janganlah berdesak-desakan untuk mencapai Hajar Aswad atau Rukun Yamani, agar tidak menyakiti kaum muslimin, karena mencium Hajar Aswad dan menyentuh Rukun Yamani hukumnya sunnah, sedangkan memuluskan dan tidak menyakiti kaum muslimin adalah wajib.
 Juga tidak boleh bagi wanita berdesak-desakan dengan laki-laki, melainkan mereka berjalan di belakang kaum laki-laki.
 Tidak boleh bagi wanita membuka wajahnya jika terdapat laki-laki asing, hendaklah dia menutupi wajahnya dengan kerudungnya (bukan dengan niqob atau kain yang menempel di wajahnya).
 Tidak mengapa melakukan thawaf di belakang zam-zam dan di seluruh masjid (termasuk di lantai atas dan atap), terutama ketika sangat ramai, namun lebih dekat ke kakbah yang lebih afdhal. Dan ulama sepakat tidak boleh thawaf di luar masjid.
 Tidak sah thawaf di dalam kakbah atau dalam Al-Hijr, karena Al-Hijr termasuk kakbah.
 Dan penamaan Al-Hijr tersebut dengan Hijr Ismail ‘alaihissalam tidak benar karena ia dibangun setelah meninggalnya beliau oleh orang-orang Qurays ketika mereka kekurangan harta untuk membangun kakbah, demikian pula sangkaan bahwa Nabi Ismail ‘alaihissalam dikuburkan di Al-Hijr adalah tidak benar.
 Jika tidak mampu thawaf sambil berjalan, tidak mengapa mengendarai kendaraan atau digendong.
 Tidak disyari’atkan menyentuh Maqom Ibrahim, dinding kakbah dan kiswahnya.
 Berdoa kepada kakbah adalah syirik besar.
 Tidak ada lafazh niat thawaf.
 Jika terjadi keraguan pada jumlah putaran thawaf, hendaklah diambil persangkaan yang paling kuat, jika tidak memiliki persangkaan kuat maka ambil hitungan yang paling sedikit, lalu menambah putaran yang masih kurang.
 Jika telah dikumandangkan iqomah sholat hendaklah memutuskan thawaf dan melakukan sholat, setelah sholat dilanjutkan kembali, tanpa harus memulai dari awal kembali. Kecuali jika terpaut waktu yang panjang maka hendaklah dimulai dari awal, sebab muwaalah (dilakukan secara bersambung) adalah syarat thawaf.
 Jika batal wudhu’ maka boleh terus melanjutkan thawaf, karena tidak ada dalil shahih dan tegas yang mengharuskan berwudhu'.
 Namun lebih afdhal berwudhu' kembali dan terus melanjutkan thawaf tanpa harus memulai dari awal. Kecuali jika terpaut waktu yang lama maka hendaklah mulai dari awal.
 Menyentuh wanita dengan sengaja maupun tanpa sengaja tidak membatalkan wudhu’, namun haram hukumnya menyentuh dengan sengaja, dan perbuatan haram lebih diharamkan lagi di negeri yang suci atau di waktu-waktu yang mulia seperti bulan-bulan haji, terutama, 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah dan bulan Ramadhan.
 Setelah thawaf, tutup kembali pundak kanan dengan pakaian ihram bagian atas seperti sebelum thawaf.
 Pergi ke Maqom Ibrahim (tempat berdirinya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika membangun Kakbah) lalu membaca:
وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى
"Wattakhidzuu mim-maqoomi Ibraahiima mushollaa"
"Dan jadikanlah bagian dari maqom Ibrahim itu sebagai tempat sholat." [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]
 Lalu sholat dua raka’at di belakang Maqom Ibrahim walaupun tidak tepat di belakangnya.
 Jika tidak memungkinkan maka lakukan sholat di mana saja di Masjidil Haram. Lakukan sholat ini walaupun bertepatan dengan waktu-waktu yang dilarang untuk sholat. Jika lupa mengerjakannya maka tidak ada kewajiban fidyah.
 Disunnahkan pada raka’at pertama membaca surat Al-Fatihah dan Al-Kafirun. Raka’at kedua membaca surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlash. Dan tidak ada doa khusus sebelum dan selesai sholat.
 Menghalangi orang yang lewat di depan kita ketika sedang sholat hendaklah dilakukan, dan tidak ada dalil yang mengecualikan masjidil Haram.
 Disunnahkan sholat yang ringan, tidak memperpanjang bacaan agar tidak menyulitkan orang lain.
 Tidak disunnahkan menyentuh atau mencium maqom Ibrahim ‘alaihissalam.
 Berdo’a kepada maqom Ibrahim atau mengharapkan berkah darinya termasuk syirik besar.
 Lalu minum zam-zam dan siramkan sebagiannya ke kepala.
 Air zamzam memiliki banyak keistimewaan dan disunnahkan bagi jama’ah haji dan umroh untuk mengambilnya sebagai bekal dan hadiah.
 Disunnahkan berdo’a di Multazam, yaitu tempat yang berada diantara hajarul Aswad dan pintu kakbah. Dan waktu berdo’a di Multazam boleh kapan saja karena tidak ada dalil yang membatasi waktunya. Dan diriwayatkan sebagian sahabat menyandarkan dadanya, wajahnya dan dua lengannya ke multazam.
 Jika memungkinkan untuk kembali menyentuh atau mencium Hajar Aswad setelah sholat dan minum zam zam. Jika tidak, maka tidak perlu berisyarat kepadanya.
 Lalu pergi ke bukit Shafa untuk melakukan sa’yu.
 Hendaklah bersegera melakukan sa’yu setelah thawaf, walaupun bersegera bukan syarat, sehingga boleh misalkan seseorang thawaf di pagi hari lalu sa’yu di sore hari.


 KETIGA: SA'I SEBANYAK 7 PUTARAN ANTARA SHAFA DAN MARWA MARWA

 Sa’i adalah rukun pada haji dan umroh, dan tidak ada dalil melakukan sa’i selain pada haji dan umroh. Berbeda dengan thawaf, boleh melakukannya kapan saja.

 Jika telah mendekati Shafa hendaklah membaca:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللهِ
"Innas shofaa wal marwata min sya'airillaah"
Artinya: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah itu termasuk syi’ar-syi’ar Allah.” (Al-Baqarah: 158)
Lalu membaca:
أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ
"Abdau bimaa badaallaahu bihi"

Artinya: “Aku memulai (sa’yu) dengan apa yang dimulai oleh Allah (yakni disebutkan dulu Shafa lalu Marwah).” [HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu'anhu]

 Masih di Shafa, jika memungkinkan untuk menaikinya, lalu menghadap kakbah dan mengucapkan:
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُلاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya segala kerajaan dan pujian, Dzat yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan serta Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, yang telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya dan menghancurkan bala tentara kafir tanpa bantuan siapa pun.”
Dibaca 3 kali, setiap kali selesai salah satunya, disunnahkan untuk berdoa kepada Allah Ta’ala sesuai keinginan kita sambil mengangkat tangan, berdasarkan hadits Jabir radhiyallahu'anhu dalam riwayat Muslim.

 Setelah itu berjalan ke Marwah, ketika lewat di antara dua tanda hijau langkah dipercepat. Setelah melewati tanda tersebut hendaklah kembali berjalan seperti biasa.

 Bagi wanita tetap berjalan seperti biasa meskipun pada dua tanda hijau berdasarkan ijma’ ulama sebagaimana yang dinukil Ibnul Mundzir rahimahullah. Adapun berlarinya Hajar Ummu Ismail ‘alaihimassalam ketika dalam keadaan beliau seorang diri, sehingga aman dari fitnah.
 Boleh naik kendaraan dalam melakukan sa’i jika terdapat masyaqqoh (beban yang berat).
 Tiba di Marwah telah dianggap melakukan satu putaran (kembalinya ke Shafa juga terhitung satu putaran).
 Berdiri di Marwah dan lakukan seperti yang dilakukan di Shafa.
 Setelah itu kembali lagi ke Shafa dan seterusnya sampai 7 putaran yang berakhir di Marwah.
 Boleh melakukan sa’i di lantai atas.
 Disyari’atkan untuk memperbanyak dzikir dan doa ketika melakukan sa’i, diantaranya do’a yang dibaca oleh sebagian Salaf seperti Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhum,
اللَّهُمَّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَم
"Allaahummaghfir liy wa Antal A'azzul Akrom"

Artinya: "Ya Allah ampunilah aku, dan Engkau yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia." [HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahumullah dalam Mansak beliau, hal. 28]

 Menghindari perkataan dosa dan perkataan sia-sia.
 Disunnahkan melakukan sa’i dalam keadaan suci, jika dilakukan dalam keadaan berhadats maka tidak mengapa. Sehingga jika seorang wanita haid setelah thawaf, boleh baginya melakukan sa’i.
 Tidak mengapa jika seseorang melakukan sa’i sebelum thawaf karena tidak tahu atau lupa.
 Jika lupa jumlah putaran hendaklah mengambil persangkaan jumlah yang paling kuat, jika tidak memiliki persangkaan kuat maka hendaklah mengambil jumlah yang paling kecil.
 Jika sa’yu terputus karena sholat atau karena suatu hajat boleh melanjutkan kembali tanpa harus mengulang dari awal, sebab al-muwaalah tidak dipersyaratkan menurut pendapat yang paling kuat, akan tetapi jika seseorang memulainya dari awal lagi itu lebih baik agar lebih hati-hati, terlebih jika terpaut waktu yang lama hendaklah dimulai dari awal lagi.


 KEEMPAT: MENCUKUR ATAU MEMENDEKKAN RAMBUT
 Mencukur atau memendekkan rambut termasuk kewajiban haji dan umroh.
 Setelah melakukan sa’yu, segera mencukur atau memendekkan rambut secara merata.
 Tidak cukup mencukur atau memendekkan sebagian rambut, namun harus seluruh rambut secara merata.
 Mencukur lebih afdhal dibanding memendekkan (karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mendo’akan 3 kali untuk yang mencukur dan 1 kali untuk yang memendekkan saja, sebagaimana dalam Ash-Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).
 Kecuali yang melakukan umroh untuk haji tamattu’, lebih afdhal baginya memendekkan, untuk kemudian mencukur pada tanggal 10 Dzulhijjah, jika waktu umrohnya sudah mendekati tanggal 10 Dzulhijjah.
 Bagi wanita hanya memotong pada ujung-ujung rambutnya sepanjang ujung jari.
 Hendaklah tetap mencukur atau memendekkan rambut meskipun telah niat berkurban dan telah masuk tanggal 1 Dzulhijjah.
 Dengan ini, telah masuk pada tahallul, yakni telah halal semua yang tadinya diharamkan ketika ihram. Selesailah rangkaian ibadah umroh.
Walhamdulillahi Rabbil’alamiin.


📝 RUJUKAN
1. Catatan pribadi dari pelajaran fiqh pada kitab Ad-Durorul Bahiyyah karya Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah di Al-Madrasah As-Salafiyyah Depok yang disampaikan Al-Ustadz Abdul Barr hafizhahullah, 1430 H.
2. Al-Ikhtiyaraat Al-Fiqhiyyah fi Masaailil ‘Ibaadat wal Mu’aamalaat min Fatawa Samaahatil ‘Allaamah Al-Imam ‘Abdil ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz –rahimahullah-, ikhtaaroha Khalid bin Su’ud Al-‘Ajmi hafizhahullah, Bab Shifatul Hajj, hal. 322-352. Cetakan ke-6, 1431 H.
3. Bayaanu maa yaf’aluhul Haaj wal Mu’tamir, karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, terbitan Kantor Pusat Haiah Al-Amri bil Ma’ruf wan Nahyi ‘anil Munkar, 1430 H.
4. Tabshirun Naasik bi Ahkaamil Manasik ‘ala Dhauil Kitab was Sunnah wal Ma’tsur ‘anis Shahaabah, karya Asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr hafizhahullah, cetakan ke-3, 1430 H.
5. Jami’ul Manasik, karya Asy-Syaikh Sulthan bin AbdurRahman Al-‘Ied hafizhahullah, cetakan ke-3, 1427 H.