Sunday, August 29, 2010

Giant Clock in Mecca


Jam Raksasa yang dibangun diseputar area masjidil haram per 1Ramadhan 1431H mulai resmi beroperasi. Menara jam ini merupakan fitur dari kompleks hotel tujuh menara Abdulaziz, yang dibangun oleh perusahaan swasta Saudi, Binladen Group.Lebih dari 90 juta keping mosaik kaca yang berwarna menghiasi sisi jam, dan setiap sisinya masing-masing menerakan tulisan besar "Allah" yang bisa terlihat jelas dari seluruh pelosok kota.
Media setempat mengatakan bahwa proyek menara jam ini menelan biaya $ US3 miliar. Pembangunan ini tak urung menuai kontroversi.

Selama lebih dari satu abad, sebuah titik di atas sebuah bukit di tenggara London telah diakui sebagai pusat waktu dunia dan titik awal resmi setiap hari baru.Namun sekarang supremasi Greenwich Mean Time atau lebih dikenal sengan singkatan GMT sedang ditantang oleh sebuah jam raksasa baru yang dibangun di Mekkah, yang diperkirakan akan menjadi acuan waktu bagi sekitar 1,5 miliar warga Muslim dunia dengan menyesuaikan jam tangan mereka segera. Jam itu mulai berdetak Kamis (12/8/2010), saat umat Islam mengawali puasa selama bulan Ramadhan. Telegraph, Rabu (11/8/2010), melaporkan, jam tersebut ditempatkan di atas Mekkah Royal Clock Tower yang mendominasi kota suci Islam itu. Ini adalah jantung dari sebuah kompleks luas yang didanai Pemerintah Arab Saudi, di dalamnya terdapat hotel, pusat perbelanjaan, dan ruang konferensi.Penampilan menara jam raksasa itu sangat mirip dengan dua Menara St Stephen (St Stephen's Tower), yang merupakan tempat untuk lonceng Big Ben dan Empire State Building. Menara jam Saudi itu memang bertujuan untuk mengalahkan saingannya di Inggris tersebut dalam segala segi.Jam empat wajah itu berdiameter 151 kaki dan akan diterangi dua juta lampu LED serta dilengkapi tulisan berhuruf Arab ukuran besar yang berbunyi, "Dalam nama Allah". Jam akan berjalan berdasarkan Standar Waktu Arabia (AST), yang tiga jam mendahului GMT. Begitu sebuah puncak berkilauan ditambahkan, berupa bulan sabit untuk melambangkan Islam, tinggi bangunan tersebut akan menjadi hampir 2.000 kaki, yang menjadikannya sebagai bangunan tertinggi kedua di dunia.Jam Big Ben, sebagai perbandingan, hanya berdiameter 23 kaki, tinggi menaranya hanya 316 kaki. Warga Mekkah juga akan diingatkan bahwa sudah waktu untuk berdoa ketika 21.000 lampu hijau dan putih, dapat terlihat dari jarak 18 mil, menyala lima kali sehari. (kompas)
Sementara beberapa penduduk Mekah bersikap kritis terhadap jam besar ini. Ternyata salah satunya karena kompleks ini dibangun di atas tanah yang pernah ditinggali oleh sebuah Benteng Usman. Kelompok pengkritisi ini terus memperjuangkan untuk melestarikan peninggalan-peninggalan Islam yang terus tergerus oleh pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah kerajaan Saudi.
"Saya pikir mereka mencoba untuk melakukan banyak pengembangan mewah di sekitar Masjid Agung, membuatnya lebih modern," kata Lina Edris, yang sering mengunjungi Mekah. "Namun, ternyata menara jam ini lebih tinggi daripada menara Masjid Agung, yang jelas akan menarik perhatian padahal masjid lebih penting." tambahnya.



Ambisi pemerintah Kerajaan Saudi menjadikan jam ini sebagai rujukan jam dunia menggantikan Bigban yang ada di Inggris.

Berdasarkan pertimbangan yang seksama bahwa Makkah berada tengah-tengah bumi sebagaimana yang dikuatkan oleh studi-studi dan gambar-gambar geologi yang dihasilkan satelit, maka benar-benar diyakini bahwa Kota Suci Makkah, bukan Greenwich, yang seharusnya dijadikan rujukan waktu dunia. Hal ini akan mengakhiri kontroversi lama yang dimulai empat dekade yang lalu.
Ada banyak argumentasi ilmiah untuk membuktikan bahwa Makkah merupakan wilayah nol bujur sangkar yang melalui kota suci tersebut, dan ia tidak melewati Greenwich di Inggris. GMT dipaksakan pada dunia ketika mayoritas negeri di dunia berada di bawah jajahan Inggris. Jika waktu Makkah yang diterapkan, maka mudah bagi setiap orang untuk mengetahui waktu shalat.
Yang jadi persoalan maukah masyarakat dunia mengubah dari GMT ke Mecca ? kalau alasan ilmiah mungkin saja mudah untuk melakukan hal tersebut tetapi banyak faktor lain yang menjadikan dunia enggan berpindah ke rujukan makkah sebagai pusat Bumi. Perlu perjuangan dan dukungan ummat muslim dunia.

No comments: